Perempuan Tua di Halte Tua

112 kali dibaca

Bus bergerak meninggalkan halte tua. Gandari mengamati kursi-kursi yang kosong, lalu memilih kursi di dekat pintu belakang. Sebelum duduk, Gandari melempar pandangan sejenak ke arah halte, melihat perempuan tua melambaikan tangan padanya. Dalam hati Gandari bertanya-tanya, siapakah perempuan tua itu?

Gandari bertemu perempuan tua itu di halte tua. Perempuan tua dengan rambut bersanggul kecil itu mengenakan kain batik coklat tua dan kebaya coklat muda; mirip pramuka saja warna pakaiannya – ia duduk di kursi pojok halte.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Mungkin perempuan tua itu seorang peminta-minta. Di kota ini sangat jarang perempuan tua mengenakan kebaya di jalanan, kecuali pengemis. Gandari menghampirinya, memberinya uang lima ribu rupiah. Gandari ingat, hari ini ia belum bersedekah. Semoga dengan bersedekah, hari buruk segera berlalu.

“Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan memberikan kabahagiaan padamu hari ini,” perempuan tua itu mencium uang pemberian Gandari, mata cekungnya tampak berbinar.

Gandari tertegun, dalam hati menjawab, “Itu mustahil!” Bagaimana mungkin Gandari akan mendapat kebahagiaan bila hari ini adalah hari terakhirnya sebagai juru bayar di Tata Usaha sebuah koran?

Meski begitu, Gandari tersenyum sekadar basa-basi dan bertanya, “Bahagia macam apa itu, Nek?”

“Hari ini kamu telah berderma, kamu akan mendapatkan kebahagiaan,” kata perempuan tua.

Gandari tertawa, menampakkan deret giginya yang rapi dan putih bersih. Ia tak bisa basa-basi lagi. Ucapan perempuan tua itu sungguh menggelikan. Semua pengemis akan mengucapkan hal yang sama untuk menyenangkan hati si pemberi derma.

Sudahlah, lupakan pengemis itu! Gandari menjauh dari perempuan tua itu, beranjak ke sudut lain halte tua. Sejenak, Gandari melirik perempuan tua itu yang masih duduk di pojok halte. Perempuan tua itu tampak tenang, tidak tersinggung dengan Gandari yang menertawakan dan menjauh darinya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan