Kata perempuan sering kali dikaitkan dengan kata perasaan. Perempuan dipandang sebagai makhluk yang emosional, mudah tersentuh, bahkan sering dituding “baper” atau terlalu terbawa suasana. Stereotip ini telah melekat begitu kuat dalam masyarakat kita.
Sayangnya, pandangan tersebut sering digunakan untuk merendahkan, seakan-akan perasaan perempuan hanyalah bentuk kelemahan. Padahal, perasaan yang dimiliki perempuan adalah kekuatan besar yang justru melengkapi kehidupan sosial, memberikan warna pada dunia, dan membentuk harmoni dalam relasi antar manusia.

Adalah hal yang sangat lumrah jika perempuan jatuh hati pada laki-laki yang telah diidamkannya. Namun, yang tidak wajar adalah ketika perempuan terlalu berlarut-larut bersama perasaannya tanpa memikirkan hidup dan tujuannya. Betul memang, bahwa ketika jatuh cinta perempuan lebih mengutamakan perasaannya dibandingkan dengan menggunakan logika. Jika menggunakan logika, perempuan tidak akan menggantungkan harapan masa depan kepada pasangannya. Karena sebenarnya perempuan bisa dan mampu untuk hidup sendiri tanpa laki-laki.
Sumber Empati dan Kekuatan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat empati yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Baron-Cohen (2003) dalam bukunya The Essential Difference menjelaskan bahwa otak perempuan cenderung lebih terhubung dengan kemampuan memahami emosi, atau disebut empathizing brain. Hal ini membuat perempuan lebih peka dalam menangkap perasaan orang lain, bahkan tanpa perlu kata-kata.
Contoh sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu sering kali tahu kapan anaknya merasa cemas, meskipun sang anak tidak mengucapkannya. Seorang sahabat perempuan mampu merasakan kegelisahan temannya hanya dari nada bicara. Kepekaan perasaan semacam ini adalah kekuatan sosial yang penting. Jika dalam lingkup kecil saja perasaan bisa menjaga hubungan tetap hangat, dalam lingkup besar ia bisa menjadi fondasi kepemimpinan yang manusiawi.
Sejarah telah mencatat bahwa perasaan perempuan sebagai sumber keberanian. Malala Yousafzai, yang memperjuangkan hak pendidikan anak perempuan di Pakistan, berangkat dari rasa kepedulian terhadap ketidakadilan yang dialaminya. Demikian pula Raden Ajeng Kartini di Indonesia, yang dengan perasaan dan pikirannya menentang belenggu feodalisme. Tanpa perasaan, perjuangan mereka mungkin tidak akan sekuat itu.
Antara Kerentanan dan Stereotip
Namun, perasaan perempuan sering kali justru menjadi alasan bagi masyarakat untuk menstigma. Menangis dianggap tanda kelemahan, misalnya. Padahal, menurut penelitian Vingerhoets (2013) dalam Why Only Humans Weep, menangis adalah bentuk kejujuran emosional sekaligus mekanisme penyembuhan psikologis. Artinya, perempuan yang menangis justru sedang menunjukkan kekuatan dalam menghadapi emosi.
Sayangnya, budaya patriarki masih menempatkan ekspresi perasaan sebagai sesuatu yang “tidak pantas” atau “berlebihan”. Akibatnya, banyak perempuan menekan emosinya demi dianggap kuat. Padahal, menurut American Psychological Association (APA, 2020), menekan perasaan justru dapat menimbulkan stres jangka panjang, kecemasan, hingga depresi.
Kerentanan perempuan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari kemanusiaan. Laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki perasaan, hanya saja masyarakat lebih permisif terhadap ekspresi laki-laki dalam bentuk amarah, tetapi menganggap negatif ekspresi emosional perempuan. Di sinilah ketidakadilan itu terjadi.
Pentingnya Memberi Ruang
Di era modern, perasaan perempuan harus dilihat sebagai aset, bukan beban. Dalam dunia kerja, misalnya, keterampilan empati terbukti meningkatkan kualitas kepemimpinan. Penelitian Goleman (2004) tentang emotional intelligence menegaskan bahwa pemimpin dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu membangun tim yang solid, memotivasi karyawan, dan menyelesaikan konflik. Artinya, perasaan perempuan justru bisa menjadi nilai tambah dalam karier.
Dalam lingkup keluarga, perasaan perempuan adalah pilar utama. Penelitian Feldman (2007) menunjukkan bahwa kedekatan emosional ibu dengan anak memiliki dampak besar pada perkembangan sosial dan rasa aman anak. Anak yang mendapat dukungan emosional dari ibunya cenderung tumbuh percaya diri dan lebih mudah beradaptasi di lingkungan sosial.
Karena itu, masyarakat perlu memberikan ruang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi. Perasaan harus dipandang sebagai kekuatan yang melengkapi rasionalitas. Dunia yang hanya mengandalkan logika akan kering dan penuh konflik, terasa kaku dan sangat egois tanpa penengah sedangkan dunia yang mengakui perasaan akan lebih manusiawi dan seimbang serta mampu bersikap luwes dan saling memaknai arti memanusiakan manusia.
Perempuan dan perasaannya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Perasaan bukanlah kelemahan yang harus ditekan, melainkan kekuatan yang bisa menjadi sumber empati, keberanian, dan keteguhan. Benar bahwa perasaan membawa kerentanan, tetapi justru kerentanan itulah yang membuat perempuan lebih autentik dan lebih dekat dengan manusia yang lainnya sehingga kehadiran perempuan sebagai pemoles kelembutan akan kodrat tegas dari sikap laki-laki.
Menghargai perasaan perempuan berarti menghargai kemanusiaan. Sebab, di balik setiap air mata, senyum, atau kegelisahan yang mereka rasakan, selalu tersimpan pelajaran tentang ketulusan, keberanian, dan cinta yang tidak ternilai. Maka, sudah saatnya kita berhenti merendahkan perasaan perempuan, dan mulai melihatnya sebagai kekuatan yang mampu mengubah dunia.
*Penulis artikel ini adalah peserta workshop penulisan kreatif dan jurnalistik jejaring duniasantri di Pesantren Tebuireng, Jombang, 20-23 Agustus 2025.
Subhanallah, mantappppp,,,,👍👍👍