duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Pentingnya Mengendalikan Emosi dalam Islam

Berbicara tentang emosi, tak luput kaitannya dengan amarah. Dan tak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah marah. Bahkan, Nabi Muhammad pun pernah marah kepada Aisyah, istri yang amat dicintainya. Namun, marahnya Nabi Muhammad tidak seperti marahnya kita sebagai manusia biasa yang senantiasa cenderung melukai diri sendiri.

Seperti diriwiyatkan dalam sebuah kisah bahwa Rasulullah pernah ada perasaan marah kepada Aisyah. Musababnya, istri Rasul tersebut terus-menerus cemburu pada Khadijah (istri pertama Rasulullah yang pada waktu itu telah meninggal dunia). Kemudian, beliau berkata dan memerintahkan kepada Aisyah, “Tutuplah matamu.” Maka Aisyah pun menutup matanya. Ketika dalam posisi tersebut, beliau mendekat dan memeluk Aisyah sambil berkata, “Ya Humaira-ku, marahku telah pergi setelah aku memelukmu.” (HR Muslim).

Advertisements
Cak Tarno

Kita ketahui bahwasa Rasulullah tidak serta-merta memarahi Aisyah karena terlalu cemburu pada siti Khadijah. Namun, sebaliknya Rasullullah justru memeluknya dengan kasih saying sebagai bentuk ekspresi dari marahnya beliau. Tentunya hal tersebut patut sekali dicontoh terutama bagi kaum muslim. Karena, tak sedikit di antara kita yang sensitif dan gampang marah oleh hal-hal sepele bahkan hal yang tidak masuk akal. Dan yang lebih parahnya lagi banyak di antara kita yang senantiasa kalut, tidak bisa mengontrol emosi dan cenderung melukai diri sendiri bahkan sampai memakan korban jiwa. Tentu hal ini berbanding terbalik dengan sikap marah Rasullullah.

Baca Juga:   Saat Pondok Blokagung Jadi Kluster Corona

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan