Pendidikan Pesantren (2): Kiai sebagai Role Model

Kehidupan pesantren adalah kehidupan khusus. Artinya, semua kegiatan santri selama di pesantren ditentukan kode etik dan aturannya sendiri. Peraturan dan kode etik ini tidak bisa dipandang sebagai pengekangan atau pun pembatasan gerak santri. Melainkan sebagai pembiasaan dan pembentukan karakter serta kepribadian yang berakhlakul karimah, akhlak mulia. Proses pembuatan kode etik dan peraturan pun tidak lepas dari kredo-kredo syariat yang lazim dipelajari santri di pesantren. Pendek kata, menanamkan nilai-nilai agama dalam diri santri.

Meminjam istilah dalam ilmu psikologi, bahwa karakter bisa dibentuk dengan beberapa model: keteladanan, apresiasi, hukuman, dan pembiasaan. Hampir keempat model itu ada dalam pesantren.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pertama, selain dengan secara bandongan dan sorogan, kiai juga mendidik lewat laku. Kiai sebagai role model atau prototipe tertinggi dalam pesantren memberi teladan seperti apa perilaku yang baik itu, akhlak yang mulia. Pasalnya, kiai lebih dahulu mengenyam pendidikan di pesantren dan mendapat pembelajaran dan pendidikan dari gurunya terdahulu, dan ilmu yang didapatnya itu diinternalisasikan ke dalam dirinya dan membentuk kepribadiannya. Ketika pulang kemudian mendirikan pesantren, integritas dan kepribadiannya telah paripurna. Layak menjadi uswah bagi santri-santrinya. Begitu mata rantai ini terus berjalan dan bergerak.

Baca Juga:   Santri Aceh Dalami Ilmu Falak

Kedua, apresiasi diberikan kepada para santri yang memiliki kemampuan dan kecerdasan lebih, demi upaya membangkitkan semangat para santrinya, baik si pelaku sendiri maupun santri yang masih menjadi penonton. Di pesantren saya, Mambaush Sholihin, setiap kali teman-teman santri mendapatkan juara lomba MQK (Musabaqah Qiraatul Kutub) akan disambut dan dirayakan pengasuh di Musala Akbar. Seluruh santri diminta mengikuti seluruh rangkaian acara apresiasi tersebut, bahkan tak jarang kegiatan belajar mengajar seketika diliburkan bila acara berlangsung di jam belajar mengajar. Pesan tersirat dan tersuratnya sama, sang juara semakin semangat, santri lain terdorong untuk lebih giat belajar supaya menjadi santri berprestasi.

Baca Juga:   Pesantren dan Relasi Sosialnya

Ketiga, hukuman diberikan kepada santri yang melanggar kode etik dan peraturan pesantren. Pesantrenku mewajibkan santri-santrinya memakai dua bahasa, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Satu minggu Bahasa Arab, satu minggu Bahasa Inggris, begitu terus bergiliran. Bila ketahuan santri berbahasa Jawa, Indonesia, Madura atau bahasa daerahnya masing-masing, karena memang santri di pesantren dari berbagai daerah, akan dikenai sanksi; berdiri di lapangan menghapalkan kosa kata, bila minggu Bahasa Arab maka kosakata Bahasa Arab, begitu sebaliknya. Semua bidang atau departemen memiliki pengurus masing-masing.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan