Pantulan Kebhinekaan di Desa (5): Bersih Kubur Suroan di Sokaraja Lor

432 kali dibaca

“Di tanah kita, agama dan tradisi saling memberi arti, membuka peluang untuk saling menghargai” – Najwa Shihab.

Petikan dari ungkapan Najwa Shihab di atas mengartikan, tanah air kita (ibu pertiwi) kaya akan agama dan tradisi. Namun demikian, kesemuanya bersatu dalam harmoni. Keberagaman tidak lantas melanggengkan sentimen superioritas. Agama dan tradisi memiliki arti yang melengkapi dan menunjukkan adanya saling penghargaan dalam tatanan keseharian.

Advertisements

Pulau Jawa adalah wilayah yang dikenal kaya akan budaya, tradisi yang telah mangakar kuat. Di sini, sepanjang daerah, hampir masing-masing terdapat budaya lokal, dan kemudian disepakati komunitasnya sebagai ritual tahunan. Salah satunya ialah desa Sokaraja Lor. Desa yang terletak di kabupaten Banyumas ini terdapat tradisi ‘bersih kubur suroan’.

Secara etimologis, bersih kubur suroan terdiri dari tiga kata, yaitu ‘bersih’ artinya terbebas/membersihkan dari kotoran, ‘kubur’ artinya tempat pemakaman, dan ‘suroan’ artinya, menurut masyarakat Jawa, merujuk pada bulan Muharam. Jadi, bersih kubur suroan adalah serangkaian aktivitas membersihkan lingkungan tempat makam (kuburan) setiap bulan Muharam di Sokaraja Lor.

Dalam proses pelaksanaan, bersih kubur selalu dilakukan dihari minggu pagi. Adapun pemilihan tanggalnya fleksibel, intinya sebelum tanggal 10 Muharam. Kalau hari minggu jatuh pada tanggal 6 Muharam, maka pelaksanaanya pada tanggal 6 itu. Di tahun ini, acara bersih kubur dilaksanakan hari minggu, tanggal 5 Muharam 1444 H/ 23 Juli 2023. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua elemen masyarakat terlibat aktif dalam tradisi ini; pemerintah desa (Pemdes), tokoh masyarakat (Kiai, Gus, Bhabinkantibmas, Babinsa, Ketua RW, Ketua RT), dan masyarakat umum.

Secara teknis, pelaksanaannya dibagi menjadi dua tim, yaitu tim lapangan dan tim dapur. Tim lapangan terdiri dari kaum adam, sedangkan tim dapur diisi oleh kaum hawa, tugasnya menyiapkan hidangan makanan—kendati ada juga kaum hawa yang memilih di lapangan karena dapur sudah penuh. Tradisi bersih kubur suroan sejatinya bentuk pengejawantahan sikap gotong-royong masyarakat sokaraja lor dalam merawat tempat kuburan (makam).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan