KOPI PAHIT PERLAWANAN
Di setiap mimpi tentang keadilan
ada orang yang menukar hidupnya
dengan secangkir resiko.

Pagi-pagi mereka menyeduh ancaman,
lalu meminumnya pelan-pelan
seperti kopi hitam yang terlalu pahit
untuk dibubuhi gula.
Mereka berjalan tanpa nama,
kadang meninggalkan keluarga
seperti orang yang lupa
mematikan lampu di rumah.
Keberanian mereka
lahir dari keheningan
yang tak bisa tidur nyenyak.
Munir, yang terbang bersama angin bandara.
Salim, yang tubuhnya ditanam tanah
tapi suaranya tumbuh jadi pohon.
Mereka bukan sedang mati,
mereka hanya berpindah alamat
ke halaman-halaman kita.
Setiap kali kita membaca mereka,
kita sedang diajari
bagaimana caranya menolak bungkam:
dengan kata-kata yang tetap hidup
meski tubuh sudah tidak lagi ada.
RISIKO DI TIKUNGAN
Mengucapkan tidak
kadang lebih berat
daripada membayar cicilan bulanan.
Kekuasaan selalu jatuh cinta
pada kata iya,
seperti anak kecil yang tak pernah bosan
mengunyah permen karet.
Ketidakadilan tumbuh liar,
seperti rumput yang malas dicabut.
Keberanian, entah dari mana,
datang seperti hujan
yang lupa membaca ramalan cuaca.
Melawan adalah pekerjaan rumah
yang tak pernah selesai.
Ada yang memilih mengerjakan,
ada yang mencontek kenyamanan,
ada pula yang pura-pura lupa membawa buku.
Risiko itu menunggu di tikungan,
kadang berupa penjara,
kadang berupa nisan.
Tetapi siapa bilang mati
bisa menghentikan suara?
Di dunia di mana pragmatisme
sering disembah sebagai dewa kecil,
idealisme tetap menanam benihnya
diam-diam,
di halaman rumah kita
yang sepi.
ORDER TERAKHIR AFFAN
Saat negara lupa menjaga hak hidup warganya,
Affan, sopir ojol sederhana,
dipaksa berperkara dengan nasib.
Ia bukan siapa-siapa
kecuali mahasiswa pencari nafkah
yang setiap hari mengetuk pintu kota
dengan helm hijau dan doa kecil di jok motornya.
Namun pada malam yang buruk itu,
ia mengetuk pintu maut
lebih keras daripada pintu pengadilan.
Dan nyawanya dirampas
seperti uang receh yang tercecer di jalan.
Affan tidak punya pengacara.
Ia hanya punya tubuh lelah,
senyum tipis, dan aplikasi di ponsel
yang kadang memberi order,
kadang memberi bahaya.
Tetapi kematiannya mengoreksi wajah kita:
negara yang tidak adil,
jalan raya yang lebih ganas daripada hakim,
dan hukum yang sering sibuk
menghitung angka,
bukan menghitung nyawa.
Affan kini beristirahat.
Motor tuanya mungkin masih parkir
di sudut ingatan.
Setiap kali kita membuka aplikasi
dan menunggu tumpangan datang,
sebenarnya kita sedang menunggu
suara Affan:
“Jangan takut membela hakmu.
Keadilan bukan soal siapa,
tapi milik semua.”
Kebumen, 29 Agustus 2025.
Sumber ilustrasi: mediacitraindonesia.com.