MEWARNAI PUISI

245 kali dibaca

SALAM
1/
Matahari masih setengah sadar
Saat kerikil-kerikil di jalan
Berbisik pada rerumputan yang basah
Tentang kebaikan sepasang kaki gempal
yang baru saja melintas ke utara
Dalam eram induk fajar
Ia melesat, mendahului cahaya
Mengasihi anak padinya
Hingga bulir- bulir menguning
merunduk takzim

2/
Sepiring nasi hangat
mengepul di atas meja
Setelah sibuk mendoakan diri sendiri
Kita terburu- buru melahapnya
Dan seringkali lupa
kepada siapa harus berkirim salam
Atas sesuap nasi yang sampai
pada lambung kita yang lata

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Bantul, 2020-2022.

SEMOGA PAGIMU SELAMAT

hari baru
hati baru
tarik gorden
buka jendela
loloskan harum pagi
melintasi kantung udara
lampu dimatikan
pikiran dinyalakan

Bantul, Juni 2022.

MEWARNAI PUISI

kau cuma ingin mewarnai puisi
dengan sisa pensil warna dari masa lalu
yang sudah pendek karena dipakai melulu
ujungnya perlu diraut biar bisa dipakai lagi
untuk mewarnai bibir dan pipi kata
sebab katakata kini lebih suka dandan daripada mandi

pernah sekali mau mandi, tapi air sudah keruh seperti warna nasib yang kelelahan
yang penting badan tidak bau, katanya
ia pun lanjut kerja menjadi puisi biasa-biasa saja dan rendah hati
cuma butuh gincu natural dan blush tipistipis
dari pensil warna jadul yang warnanya cepat luntur

karena terus digigit puisi,
pensil warna makin tumpul dan kehabisan badan
padahal toko ingatan sudah lama tutup
lalu entah mengapa sekitar jadi gelap seperti semua lampu sengaja dimatikan
dan puisi makin mahir menggerayangi kepalamu yang telat membayar tagihan

Bantul, Juni 2022.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan