Mengenang Kiai Adib: Sosok Gemati dan Tawadhu yang telah Berpulang

Kembali dunia santri berduka. KH Adib Abdurrahim berpulang ke rahmatullah pada Kamis, 5 Maret 2020 di Rumah Sakit Karyadi Semarang, Jawa Tengah, pukul 02.00 dini hari dalam usia 57 tahun.

Sosok Kiai Adib, seperti dituturkan Shofiyul Burhan, alumnus Pondok Pesantren Ma’hadul Ulum Asy Syar’iyyah (PP.MUS ) Sarang, Rembang, Jawa Tengah, merupakan pribadi yang gemati (penyayang). Keseharian beliau yang bersahaja disertai pembawaan yang supel dan ramah kepada siapa pun menjadikan beliau sosok yang dirindu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Menurutnya, satu hal yang patut menjadi teladan ialah saat beliau di-sowani. Kiai Adib selalu menyebut nama si santri dan alamat rumahnya. Kebiasaan ini merupakan cara beliau untuk mendekatkan santri dengan kiainya, agar tidak ada sekat yang memutus hubungan ta’alluq antara santri dan kiai.

Baca Juga:   Asrarur Rafiah, dari Pengajian Keliling Menjadi Pondok Putri

Selain gemati pada santri, sikap Kiai Adib yang ia kenang ialah sakho’ (loman) atau bermurah hati. Seringkali setiap tamu yang bersilaturrahmi ke kediaman beliau, selalu beliau ajak ke ruang makan dan disuguhi dengan aneka macam lauk pauk yang tersedia di meja makan.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Durotun Nasikhin, diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa sifat sakho’ itu seperti pepohonan yang batangya ada di surga. Sedangkan, cabang-cabangnya menjulur berjuntai ke dunia. Barang siapa berpegangan pada cabang satu dari pohon itu, maka cabang itu akan mengantarkan jalan ke surga. Semoga sifat sakho’ ini yang menjadikan wasilah beliau merasakan kenikmatan surga di alam barzah.

Baca Juga:   Jamaludin Malik: Tokoh Lesbumi dan Bapak Film Indonesia

Kiai Adib yang merupakan keponakan dari Syaikhona KH Maimoen Zubair ini juga dikenal pribadi yang tawadhu. Walaupun putra dari kiai besar KH Abdurrahim Ahmad, namun keseharian beliau sama sekali tidak menampakkan kebesaran sebagai salah satu Masyayikh PP MUS Rembang. Hal ini tercermin dari keistiqomahannya dalam mengajar di pesantren. Beliau tidak mau mengajar kelas yang tinggi, tetapi mengajar kelas tingkat bawah dengan pelajaran akhlak.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan