Mengembalikan Marwah Pesantren di Masyarakat

162 kali dibaca

Akhir-akhir ini pesantren menjadi topik pembicaraan yang cukup hangat di tengah masyarakat, terutama masyarakat pelosok pedesaan. Beragam statemen dan spekulasi pun mulai bermunculan. Ada yang berpandangan positif dengan mengatakan, bahwa pesantren merupakan tempat terbaik dalam menuntut ilmu. Apalagi, di tengah hiruk pikuk zaman yang tak lagi menjunjung etika, akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun demikian, tidak sedikit pula yang berpandangan negatif bahkan dipenuhi dengan kecurigaan-kecurigaan: pesantren tidak lagi menjadi tempat aman dan nyaman bagi seorang anak dalam menuntut ilmu, khususnya tentang ilmu-ilmu keislaman. Pandangan negatif ini mereka dasarkan terhadap pelbagai kasus yang beberapa tahun terakhir acapkali terjadi di pesantren.

Advertisements

Ambillah contoh Herry Wirawan, seorang pimpinan pesantren yang ada di daerah Cibiru, Bandung terbukti melakukan pemerkosaan terhadap 13 santriwati yang 9 di antaranya sudah melahirkan anak, bahkan satu orang melahirkan sampai dua kali. Juga Moch Subchi Azal Tsani yang merupakan tokoh di salah satu pesantren Jombang sebagai tersangka tindakan pencabulan dan pemerkosaan.

Baca juga:   How Pesantren Respond to Today's Challenges

Kemudian, kasus teranyar terjadi di Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur yang menewaskan salah seorang santri asal Palembang, Sumatera Selatan berinisial AM karena diduga akibat penganiayaan oleh sesama santrinya. Kasus ini mencuat ke publik pasca ibu korban, Soimah mengadu kepada pengacara kondang, yaitu Hotman Paris Hutapea yang kemudian diunggah di media sosial.

Baca juga:   Ketika “Singa Gurun” Diadang Pandemi

Dari beberapa contoh kasus di atas, tentu saja, mencoreng nama baik pesantren di mata masyarakat –kendati terjadi hanya di sebagian pesantren. Namun, terlepas dari itu semua hal yang menurut saya sangat urgen dilakukan oleh seluruh kalangan pesantren guna meminimalisir stigma negatif sebagaimana di muka, adalah bagaimana berupaya semaksimal mungkin mengembalikan marwah pesantren yang sebenarnya.

Seperti diketahui bersama, bahwa pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang telah memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Kontribusinya tidak bisa dilepaskan dari tujuan utama didirikannya pesantren; sebagai lembaga pusat kajian ilmu-ilmu keislaman (tafaqquh fid-dien), khususnya karya para ulama klasik (kitab kuning).

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan