Meneladan Sikap Tawaduk Kiai Ihsan Jampes

135 kali dibaca

Sudah lama saya mengagumi figur Kiai Ihsan Jampes. Namun, di tahun 2015, saya baru mulai mendalami sosok inspiratif dari kiai yang pernah menjadi salah satu guru KH Maimoen Zubair ini, khususnya ketika saya melacak keberadaan karya tafsirnya yang berjudul Nūr al-Iḥsān fī Tafsīr al-Qur’ān.

Sepanjang penelaahan saya terhadap berbagai literatur dan beragam informasi dari para nara sumber, dapat saya simpulkan bahwa Kiai Ihsan adalah seorang kiai yang sangat alim dan tawaduk. Banyak bukti-bukti nyata dari tawaduk kiai yang mulanya mempunyai nama Bakri itu. Namun, untuk mempersingkat ulasan, di sini dicukupkan hanya dua episode yang hendak saya narasikan:

Advertisements

Episode ke-1: Menghindari Popularitas

Baca juga:   Guru Sekumpul, Perhiasan Ahli Ibadah

Kisah bermula saat Kiai Ihsan nyantri di Pesantren Jamsaren, Solo, Jawa Tengah. Waktu pertama kali masuk mendaftar sebagai santri Jamsaren, ia tidak menyebutkan nama asli abahnya yang masyhur di telinga masyarakat luas, yakni KH Dahlan bin Shaleh Jampes. Tetapi, ia mendaftar dengan nama Bakri bin Abu Bakar.

Ihwal tersebut bukan berarti menunjukkan kebohongan dalam diri Kiai Ihsan. Sama sekali tidak. Sebab, Abu Bakar memang benar-benar nama asli abahnya. Sepulang berhaji dari tanah suci, nama Abu Bakar itu diubah menjadi Dahlan. Kiai Ihsan tampaknya juga mengikuti jejak abahnya. Sepulang dari haji namanya juga diganti. Dari semula Bakri menjadi Ihsan. Mengubah nama setelah menunaikan rukun Islam kelima memang sudah menjadi tradisi bagi kaum muslimin Indonesia tempo dulu. Tujuannya agar perubahan nama itu menjadi pemantik terhadap berubahnya sikap dan perilaku menjadi lebih baik pasca menjalani ritual peribadatan di tanah suci.

Baca juga:   Kiai Rifai, Berdakwah dengan Puisi

Setelah resmi menjadi santri Jamsaren, kiai Ihsan berkehendak untuk menjadi pelayan kiai, atau dengan istilah lain sebagai santri abdi ndalem. Seiring berjalannya waktu, identitas asli Kiai Ihsan mulai terbongkar. Bahwa ia adalah putra dari kiai ternama asal Jampes, Kediri. Mengetahui hal itu, Kiai Ihsan mulai menjaga jarak dan mengambil langkah untuk mengakhiri masa mondoknya di Jamsaren dengan berpamitan kepada pengasuhnya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan