duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Hari itu adalah Senin, orang kantoran menyebutnya hari kerja. Hari di mana Bumi dan Langit diciptakan, hari di mana junjungan alam dilahirkan, dan hari di mana para santri berpuasa sunah.

Rasa-rasanya baru kemarin saya bangun subuh, mandi, sarapan, mencari seragam, lalu pergi ke sekolah. Masa-masa SD yang kala itu harus berjalan kaki menyeberang jalan raya, masa SMP yang kala itu harus berlari mengejar angkutan umum, dan masa Madrasah Aliyah yang kala itu sering digebrak oleh lonceng dan pengurus.

Advertisements
Cak Tarno

Dimulai dari pelajaran English, mengeja dan menghafal Monday, Tuesday, Wednesday, sampai pelajaran ilmu Nahu, يَوْمُ الاِثْنَيْنِ – اللَّيْلَة – غُدْوَةً – بُكْرًا – سَحْرًا , kata-kata itu seakan tak mau hilang dari kepala.

Baca Juga:   Menyelami Kehidupan Pesantren

Ketika di pondok, saya dianjurkan untuk selalu disiplin (istiqomah) dengan waktu. Artinya, saya harus mengikuti kegiatan pondok semaksimal mungkin. Dari bangun tidur sampai ke tidur lagi. Teringat akan Kiai yang selalu berpesan pada santrinya, “Jika hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung; jika hari ini sama dengan kemarin,  maka ia menjadi orang yang merugi; dan jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.” Sebagaimana pepatah mengatakan, لَنْ تَرْجِعَ الْأَيَّامُ الَّتِي مَضَتْ

Baca Juga:   Beling dan Cerita tentang Kita

Halaman: 1 2 Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan