Keadaan yang Membentuk Kesadaran Santri

Pada tiap kisah yang dituturkan memiliki karakter masing-masing yang membentuk alurnya. Sedemikian rupa, akan menjadi menarik bagi sebagian kalangan, namun buruk untuk khalayak yang lain. Begitulah kiranya pesantren yang kami tinggali saat ini.

Riuh suara yang bukan merupakan suara aksi demonstran, namun merupakan wirid wajib bagi santri yang sedang mengabdi di sini. Menenangkan sekaligus membakar semangat pengabdian. Tak jarang santri mulai lupa tugas dan kewajiban menjaga Kalam-Nya. Karena merasa sudah tak lagi terkekang peraturan. Terlampau nyaman, melenakan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tidak jarang, riuh yang demikian itu juga membakar semangat warga sekitar pesantren. Tepatnya semangat untuk mengomentari dan selalu mengkritik. Saya sempat bingung tentang hal-ihwal ini. Apakah telinga mereka terbuat dari kertas? Yang mudah sekali tersulut api, kemudian menganggap sahut-sahutan wirid Quran tadi sebagai apinya. Bahkan sampai berani mengacungkan parang di hadapan Kiai kami lantaran merasa terganggu oleh ramainya anak-anak yang sedang mengaji.

Baca Juga:   Berkah Air Jeding Kiai

Wahai, manusia!

Angin yang sejuk mengembus setiap hari. Menemani para santri mengaji. Pesantren yang semula sepi dari pepohonan, kini sudah ramai dinaungi saung-saung bambu. Tempat seperti inilah yang mereka gunakan untuk mengaji, bahkan untuk pembelajaran kelas formal.

Suara kicau burung jalak milik Kiai pun ikut meramaikan. Mengapa jalak? Sebab, jalak, menurut Kiai, merupakan perlambang budi pekerti yang luhur. “Jalak”, juga berarti “jaga akhlak!” Saya rasa ia pun ikut mengaji.

Saban hari, saat Kiai kedatangan tamu, dengan bangga beliau membawa tamu-tamunya itu untuk keliling pesantren. Sekadar melihat-lihat, tentunya setelah dijamu di kediamannya tadi.

Baca Juga:   Cerita dari Pesantren (2): Ketika Santri Bersekongkol

Melihat pemandangan santri yang sedang belajar di geduang memang sudah biasa. Namun, melihat keadaan santri yang belajar formal di tempat lesehan seperti saung hal tak biasa bagi tetamu. Padahal, sejak awal berdirinya pesantren ini, santri sudah terbiasa belajar bernaungkan atap tenda. Layaknya tenda hajatan, tak bersisi, tak berlantai. Suara saling bersahutan tumpang tindih antara kelas-kelas yang terisi. Bukan tak ingin, akan tetapi pesantren cabang ini memang masih dalam tahap belajar berjalan sendiri. Karena selama ini disubsidi oleh pesantren pusat. Tidak mungkin mencekik wali santri dengan menambah bayaran bulanan.

One Reply to “Keadaan yang Membentuk Kesadaran Santri”

Tinggalkan Balasan