Gerakan Khilafah, Paham Salah Kaprah (1)

280 kali dibaca

Akhir-akhir ini di media massa ramai berita tentang penangkapan kelompok yang mengatasnamakan khilafah dan jihad. Tengah diusut pula oleh pihak yang berwajib tentang arus dana yang digunakan oleh mereka untuk kepentingan gerakan atau “dakwah” kelompok ini. Dicurigai pula beberapa sekolah yang terindikasi gerakan khilafah ini. Lalu, bagaimana memahami fenomena ini dalam kerangka masyarakat demokrasi?

Dalam alam demokrasi tentu saja apapun boleh kecuali yang tidak mengikuti aturan hukum dan tata berpikir yang rasional logis. Sebab, demokrasi adalah permainan bagi orang-orang yang berakal sehat. Berakal sehat artinya tidak hanya rasional logis, tapi juga menuntut ke-etis-an, sebuah kualitas yang lebih dalam lagi. Persoalan mengenai orang-orang yang kemudian menjadi berpaham kaku, bahkan ekstrem, tidak hanya membidahkan sesuatu kegiatan tetapi mengkafirkan bahkan memiliki misi politis untuk memecah belah dan menjatuhkan pemerintah, ini tentu saja perlu kita renungi bersama.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Banyak contoh negara yang telah disusupi “pion” semacam ini untuk merusak keutuhan negara tersebut, bisa dilihat di Timur Tengah. Di Indonesia, negeri yang terkenal kaya alam rayanya ini pun tak lepas menjadi sasaran daripada politik global yang memiliki kepentingan tertentu dalam urusan politik, terutama ekonomi.

Untuk memahaminya penulis mengajukan beberapa contoh kecil yang bisa kita pikirkan bersama. Di sebuah kampus negeri (di kota besar), penulis pernah bertemu dengan mahasiswa yang kebetulan sudah keluar dari kampus. Darinya penulis mendapat cerita mengenai masjid di kampus yang dikelola oleh kelompok HTI (cerita ini didapatkan setelah kelompok itu dibubarkan pemerintah). Melalui obrolan panjang lebar dengannya penulis memahami apa yang berlaku di masjid itu.

Metode mereka (HTI) mengajak ngobrol, “diskusi”, hingga akhirnya mengajak ikut kajian-kajian adalah strategi mereka dalam mempengaruhi mahasiswa yang lain (terutama yang baru ke masjid itu). Setelah ikut kajian-kajian tersebut, si mahasiswa itu kemudian menjadi kaku dan mulai menyalah-nyalahkan pemerintah, bahkan lingkungan sekitarnya sendiri yang dianggapnya kurang tepat. Dari sini bisa kita lihat, bahwa yang disasar oleh mereka adalah pikiran si mahasiswa. Dengan dipengaruhi dengan kalimat-kalimat “yang terkesan logis” kemudian mereka menjadi percaya seolah-olah tindakan mereka benar adanya.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan