duniasantri.co, Mainstreaming Geliat Literasi Santri

219 kali dibaca

Dibanding kontributor/author duniasantri yang lain, saya mungkin masih tergolong warga baru. Saya bergabung menjadi warga duniasantri pada April 2022. Awal kenal web duniasantri.co bermula ketika dikasih tahu teman saya yang kebetulan pada waktu itu tulisannya baru saja terbit. Dengan hasil riset mini, saya akhirnya menyimpulkan bahwa platform ini (duniasantri.co) cocok bagi saya untuk mengembangkan tulisan.

Saya melihat duniasantri.co itu seperti sebuah mutiara di antara himpunan pasir pantai. Menjadi secercah cahaya yang keluar dari goa (baca: gelap gulita). Dengan mengusung konsep citizen journalism bagi komunitas santri, hal ini tentu sebagai angin segar bagi para santri. Akhirnya para santri mendapat tempat untuk mengembangkan bakat, minat serta gagasan pemikirannya. Karena tidak dapat disangkal, biasanya yang mendapat wadah untuk menyalurkan ide dan gagasan adalah orang-orang akademisi, kaum terdidik yang dilegalisasi negara.

Advertisements

Di web duniasantri.co sendiri terdapat berbagai macam rubrikasi; ada Teras, Opini, Santri Way, Sosok, Pondok, Cerpen, Puisi, Humor, Pustaka, Bintang, dan English Section. Saya menyebutnya ini merupakan menu “paket komplit” seperti di restoran-restoran. Semua opsi dapat dicoba sesuai selera dari author. Melalui tulisan yang dibuat, santri dapat menampakkan eksistensinya yang selama ini dianggap oleh sebagian orang sebagai kaum terbelakang karena tidak melek teknologi.

Pondok-pondok yang tadinya berada di pelosok Nusantara yang belum terjamah pun, melalui tulisan pada rubrik Pondok, akhirnya dapat dikenali oleh para pembaca. Kemudian melatih pemikiran kritis, analitis para santri pada rubrik Opini. Dan ketika memiliki pengalaman lucu dapat ditulis dengan gaya bahasa kekinian kemudian di submit pada rubrik Humor.

Jangan salah, rubrik Humor secara psikologis akan berdampak positif bagi para pembaca. Bagi pembaca yang sedang penat bekerja kemudian dialihkan dengan membaca rubrik Humor pada akhirnya tingkat kepenatannya akan berkurang, serta bisa jadi mengembalikan energi untuk bekerja.

Selanjutnya ada kolom Bintang, yang fungsinya untuk menarasikan prestasi-prestasi kaum santri. Contohnya, ada santri yang diterima kampus luar negeri, juara kaligrafi se-Asia Tenggara, lomba esai se-Asia Tenggara, juara olimpiade internasional, dan lain-lain. Ini bisa menepis tuduhan dan streteotype dari sebagain orang yang menganggap remeh para santri yang dianggap tidak mampu bersaing dengan orang non-pesantren.

Baca juga:   Sains dan Agama sebagai Sarana Menuju Dunia Luar

Menulis itu suatu hal yang asik. Kenapa bisa asik? Karena otak yang tadinya berada pada ruang nyaman, dengan menulis dipaksa untuk memutar mengeluarkan percikan suatu ide kata-kata. Bagi yang masih pemula memang hal seperti itu sangat sulit. Makannya, untuk mengeluarkan ide kata-kata dari otak perlu dipancing dengan membaca referensi buku-buku/kitab-kitab. Bagi yang sudah asik terjun ke dunia literasi pasti mengatakan “sulit tapi seru”.

Sadar atau tidak, menulis akan menjadikan diri kita itu mempunyai value tersendiri. Will Durant berkata, “Scripta manent, verba volant” (kata yang tertulis akan abadi, kata yang terucap akan lenyap). Jika diresapi dengan segenap jiwa memang agak benar, bahwa suatu karya yang ditulis sampai kapanpun tetap hidup. Kalau sekadar kata-kata verbal pasti suatu saat akan lenyap, karena orang yang mengatakan juga pasti akan meninggal dan jika hanya ditaruh di otak, rasio memori otak manusia juga tidak panjang.

Maka dari itu, ulama dahulu mengajarkan kita untuk selalu berliterasi –membaca kemudian membuat karya tulis. Alhasil, banyak dari kitab turats karya ulama terdahulu tersebar di berbagai belahan dunia. Kalau di pondok pesantren lebih familiar dengan sebuat kitab kuning. Dengan adanya kitab turats tersebut, sebenarnya kritik halus kepada kita semua agar mewarisi tonggak estafet geliat literasi.

Memang keilmuan kita belum sehebat ulama terdahulu. Bila dibandingkan, mungkin terasa sangat jauh sekali selayaknya “baina sama’ wa sumurisat” (bagaikan langit dan sumur sat/sumur kering). Tentu keilmuan kita yang dikategori sumur sat, sehingga masih membutuhkan belajar, belajar, dan belajar. Sedangkan, ulama terdahulu telah memiliki kompetensi keilmuan menjulang tinggi, dan menguasai berbagai disiplin ilmu.

Dengan konsekuensi logis tadi, saya rasa kita masih dapat berperan, yaitu dengan ngurip-nguripi, ngebek-ngebeki ruang digital dengan tulisan yang sehat serta moderat sehingga dapat menyaingi sebagian kelompok yang memanfaatkan panggung digital untuk menyebarkan paham-paham radikal, hoax, hate speech, dan lain-lain. Menulis di ruang digital itu suatu ikhtiar untuk berperan. Meskipun masih dalam taraf yang kecil, tetapi tidak masalah, yang penting niat kita sudah baik yaitu menyalurkan energi kebaikan lewat tulisan itu.

Baca juga:   Santri dan Ghasab

Dalam konteks ini, duniasantri.co menjadi sebuah plaform untuk menggerakkan kembali dunia literasi khususnya bagi santri. Dalam hasil riset mini saya, saya juga mendapati di kolom kirim artikel bahwa di sana terdapat kata “tiap tulisan atau karya yang dimuat akan memperoleh honorarium sebesar Rp 50.000 dan hanya bisa dimintakan klaim pembayaran tiap lima kali pemuatan (kelipatan lima pemuatan karya)”.

Hal itu yang membuat saya tercengang; kok amat baik. Kita-kita semua padahal sedang belajar menulis, tetapi malah mendapat penghargaan berupa honorarium. Ada salah satu author bilang bahwa dengan honorarium tersebut sudah bisa membeli kitab Syarah Rawaiul Bayan atau bahkan kitab Lisanul Arabiy –kita yang terkesan mahal–. Saya bisa membayangkan juga para santri yang telat kiriman dari orang tua, juga telah tercukupi dengan honorarium tersebut.

Inilah seperti penjelasan dari Kang Maman yang selalu mengutarakan, “Jika kamu Iqro’, kamu tidak mungkin kelaparan”. Dengan Iqro’ akan menjadikan dasar kebahagiaan. Coba lihat negara Finlandia, Belanda, Swedia, Australia, dan Jepang. Baru Iqro’ saja, 5 negara tersebut bisa menjadi negara yang bahagia serta maju. Mereka hanya punya Iqro’ sudah seperti itu, sedangkan kita punya bismirabbika. Bayangkan jika dielaborasikan dengan bismirabbika, yang mana telah dimiliki kita semua. Keren, bukan? Maka, mari menulis, mari berliterasi guna tercapai visi santri membangun negeri. Wassalam…

Multi-Page

Tinggalkan Balasan