Berbagi di Tengah Pandemi

4.644 kali dibaca

Pemandangan pasar pagi ini sama seperti biasanya. Di pinggir jalan terlihat ada tukang becak, penjual makanan, kuli angkut, tukang parkir. Hanya, bedanya, pengunjung yang terlihat semakin sedikit.

Pandanganku tertuju pada seorang kakek padagang somay, dengan sepeda tuanya yang sudah reyot, seperti seirama dengan kondisi fisiknya yang terlihat ringkih.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kuhampiri dagangannya. Baru saja turun melangkahkan kaki ke arahnya, si kakek penjual somay  langsung tersenyum seperti menyambut kedatanganku. Rasanya hati terenyuh melihat sikap si kakek penjual yang begitu ramah.

“Dari pagi ndak ada yang beli, Mas. Alhamdulillah, Mas yang pertama beli,” tutur si kakek sambil membungkus pesananku.

Aku cuma mengangguk melas, lalu kakek berujar lagi. “Lha gimana, kalau ndak dagang juga ndak bisa makan. Makanya kalau disuruh di rumah aja ya ndak bisa”.

Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya hamba-Mu ini. Tiap pagi, siang, sore masih bisa makan enak sampai kenyang. Kalau mau juga bisa mentong alias makan malam, belum jajannya. Tapi kok lebih sering sambat, jarang berdoa tapi sekalinya berdoa isinya ngersulo semua. Disuruh di rumah saja biar untuk memutus penyebaran wabah masih juga bandel keluar buat beli-beli.

Memang seharusnya adanya wabah Corona menjadikan banyak pelajaran bagi kita semua. Ibnu Hajar Asqolani yang menulis kitab بذل الماعون في فضيلة الطاعون, “Pemberian Bantuan kepada Penderita Thoun”, menegaskan pentingnya kita untuk memberi bantuan kepada orang-orang apabila ada wabah (thaun) yang melanda.

Bukankah di antara kita ada yang mampu, hartanya berkecukupan, saldo tabungannya berlipat-lipat nol digit, stok berasnya banyak. Merekalah yang seharusnya tetap diam di rumah, tak perlu keluar untuk mengurangi risiko penyebaran pandemi. Karena, tentu cukup persediaan untuk tak bekerja beberapa hari.

Sementara yang tetap harus bekerja, biarkan bekerja, tentu dengan standar kesehatan, mengenakan masker, menjaga kebersihan, lebih bagus kalau si kaya tadi bisa menyumbangkan masker secara gratis. Jangan malah semakin rakus dan tamak. Sudah tahu orang-orang butuh masker, eh malah memborong banyak, ditimbun, lalu dijual dengan harga melambung saat barang langka.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan