Belajar Bahagia dari Tasawuf Kekinian

Meraih bahagia adalah dambaan setiap insan, baik yang miskin atau yang kaya. Sehingga tidak jarang dalam meraih kebahagiaan manusia rela mengorbankan jiwa, raga, atau keluarga. Padahal bahagia ada di dalam diri kita, dekat dengan kita.

Sebagian orang mengira bahwa bahagia hanya bisa diraih dengan harta yang berlimpah. Padahal, banyak orang dengan harga melimpah justru tak bahagia. Setidaknya itulah yang tergambar dari sebagian dari isi buku Tasawuf Modern karya Prof Dr Hamka ini.

Advertisements
Cak Tarno

Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan, orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan, orang yang telah terjerumus ke lembah dosa mengatakan bahwa terhenti dari dosa itulah kebahagiaan, seorang rindu atau bercinta hasil maksudnya itulah bahagia, seorang jurnalis merasa bahagia jika surat kabarnya dan timbangan redaksinya dipahami orang.

Baca Juga:   Tak Hanya Gajah yang Meninggalkan Gading

Begitu penggalan kalimat ulama dengan nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini saat mengawali tulisannya tentang bahagia yang didambakan manusia sepanjang zaman.

Membaca buku ini membuat kita akan termangu sejenak saat menyelesaikan satu alinea, sebelum pindah ke alinea berikutnya, untuk menerka apa maksud Buya Hamka dalam tulisannya itu. Mengingat, bahasanya yang sangat filosofis dan estetis. Filosofis, karena latar belakang Buya Hamka yang seorang intelektual muslim berwawasan luas dan menyukai filsafat. Estetis, karena ia merupakan seorang satrawan terkemuka yang beberapa karya sastranya sangat populer dari masa ke masa.

Baca Juga:   Menerapkan Metode Dakwah Wali Songo di Era Digital

Namun begitu, konsep bahagia menurut beberapa filosof Barat ada yang diterima oleh Hamka karena sesuai dengan konsep Islam. Akan tetapi, Hamka lebih banyak mengesampingkan konsep para filosof Barat tersebut karena pendapatnya tidak kuat, skeptis, dan tidak bisa di terima akal sehat. Seperti filsafat Aristoteles, Hendrik Ibsen, Thomas Hardy, Tolstoy, Bertrand Russel, dan dan George Bernand Shaw.

Derajat bahagia manusia, menurut Hamka, harus sesuai dengan derajat akal, karena akallah yang membedakan antara baik dengan buruk. Akal juga yang dapat menerangkan segala pekerjaan, menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup ini.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All