As-Sunniyyah, Cerita Pesantren yang Diserbu Penjajah

1.150 kali dibaca

Banyak pondok pesantren yang menjadi basis perlawanan terhadap penjajahan di zaman prakemerdekaan. Salah satunya adalah Pondok Pesantren As-Sunniyyah Kencong, Jember, Jawa Timur. Inilah dinamika salah satu pesantren tertua di wilayah timur Jawa Timur.

Di wilayah Jember dan sekitarnya, nama KH Djauhari Zawawi sangat disegani dan dihormati. Orang sering menyebutnya dengan “Kiai Djauhari Kencong”. Sebutan ini merujuk pada Pondok As-Sunniyyah, pesantren yang didirikan dan diasuhnya, yang terletak di Desa Kencong. Dus, Kiai Djauhari adalah pendiri Pondok Pesantren As-Sunniyyah, salah satu pesantren salaf tertua di Jember.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kiai Djauhari yang telah berpulang pada 1994 sesungguhnya bukan asli Jember. Kiai Djauhari kelahiran Waru, Sidorejo, Rembang, Jawa Tengah, pada 1911. Tercatat sebagai cucu dari Raden Yusuf Mangkudirjo, yang masih keturunan Sunan Kalijaga. Eyang putrinya, Nyai Saroh binti Muhsin, adalah cucu Mbah Saman bin Sriman dari Klampis, Madura, yang mantan prajurit Goa Selarong, pasukan inti Pangeran Diponegoro. Mbah Saman ini kemudian memilih berjuang di bidang pendidikan dan merintis berdirinya Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Adapun, ibunda Kiai Djauhari adalah Nyai Umamah bin Kyai Nur Khotib, yang termasuk keturunan ke-9 Sayyid Abdurrahmah Basyaiban alias Mbah Sambu, Lasem.

Berguru ke Banyak Kiai

Semasa remaja, Kiai Djauhari belajar dasar-dasar agama dari ayahnya, KH Zawawi di Waru, Sidorejo, Sedan, Rembang. Di halaman rumah dia dilahirkan, sampai sekarang masih berdiri kokoh madrasah diniyah yang dirintis ayahnya bersama Syaikh Hamzah Syatha, cucu Sayyid Bakri Satha, pengarang kitab I’anah al-Thalibin. Di usia 11 tahun, Kiai Djauhari sudah hafal kitab Alfiyah.

Seiring bertambahnyaa usia, Kiai DJauhari melanjutkan belajar agama dengan berguru kepada KH Abd Syakur (Suidang) dan KH Abul Fadlol (Senori, Tuban). Saat itu, dia juga sambil ngaji pada KH Ma’ruf, Jatirogo. Setelah itu dia tinggal di Kajen, Pati mengaji kepada kiai-kiai dzurriyah Mbah Mutamakkin, di antaranya KH Mahfudh (Abah KH Sahal Mahfudh), KH Nawawi. Setelah dua tahun di Kajen, Kiai Djauhari dia pindah ke Sarang untuk berguru kepada  KH Umar, KH. Syu’aib, KH Imam, dan KH. Zubair. Ia juga belajar di Termas di pesantren yang diasuh KH Dimyati (adik Syaikh Mahfudh At-Turmusi).

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan