Aktualisasi Nasihat KH Hasyim Asy’ari di Era Digital

65 kali dibaca

Dalam kumpulan karangan KH Hasyim Asy’ari yang diterbitkan Pondok Pesantren Tebuireng (1992), salah satu bagiannya memuat nasihat KH Hasyim yang berjudul Al-Mawaa‘idz. Bagian ini merupakan bagian penutup dari dua bagian lainnya, yakni Qanun Asasi Lil Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan Pidato Beliau di Muktamar 1932 Surabaya.

Yang unik dari nasihat beliau adalah, alih-alih menasihati soal pentingnya rajin beribadah, atau memuliakan simbol agama lebih dulu, justru menasihati tentang bahaya perpecahan. Penggalan awal dari Al Mawaa‘idz bunyinya begini:

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Faqod balaghoni anna baynakum ilal an isyti ‘ala naarol fatani wal munaaza’ati, fata ammaltu sababa dzalika, fahuwa maa ‘alayhi ahlu haadzal zamaani annahum baddaluu wa ghayyaruu kitaballahi wa sunnata rasulullahi shollallhu ‘alayhi wasallam.

Qola ta’aala: ‘innamal mu’ minuuna ikhwatun fa ashlihuu bayna akhwaykum.’ Wahum ja’aluhum a’daa an walam yushlihuu-hum, bal afsaduu-hum.”

“Telah sampai kepada saya bahwa di antara kalian hingga saat ini masih berkobar api fitnah dan pertikaian. Maka saya pun berpikir secara mendalam tentang sebab-sebab timbulnya masalah tersebut. Ternyata, penyebabnya ialah perilaku yang kini banyak dilakukan orang-orang di zaman ini, yakni mereka telah mengubah (pengertian) dan mengganti (pemahaman) terhadap kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Allah berfirman: ‘sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, (karena itu bila timbul pertikaian di antara mereka), maka berusahalah kalian untuk mendamaikan di antara kedua saudara kalian itu.’” Mereka ternyata justru menjadikan sesama saudaranya sebagai musuh, mereka bukannya mendamaikan, melainkan justru (mengipasinya agar permusuhan makin meruncing), sehingga akhirnya menimbulkan kerusakan kepada sesama saudara.”

Ketika pada zamannya KH Hasyim, nasihat itu mungkin tidak lain didorong oleh Wahabisme yang baru saja masuk ke Indonesia, ditambah pula oleh gerakan Islam modern yang waktu itu juga sedang mulai bersemarak. Secara prinsipil, sekilas situasi zaman yang dihadapi KH Hasyim dan kita sekarang tidak jauh berbeda, namun ada perbedaan kontras dalam hal sofistikasinya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan