Dalam membangun pesantren yang ramah anak, diperlukan strategi pengasuhan yang tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap hak-hak dasar anak. Pendekatan ini melibatkan penguatan nilai-nilai toleransi, pendidikan anti-perundungan, pencegahan kekerasan seksual, serta dukungan psikososial yang mendukung perkembangan emosional santri.
Berikut ini adalah analisis berbasis teori yang diterapkan untuk membangun pengasuhan ramah anak di pesantren, dengan mempertimbangkan isu-isu aktual yang melanda lingkungan pendidikan di Indonesia.

Toleransi dan Kerukunan Beragama di Pesantren
Jika mengacu pada teori Bhikhu Parekh (2000), multikulturalisme adalah penegasan akan penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman budaya, agama, dan pandangan hidup yang sangat penting untuk mewujudkan harmoni sosial. Parekh berpendapat bahwa setiap individu atau kelompok berhak atas pengakuan dan eksistensi yang setara dalam ruang publik.
Dalam konteks pesantren, teori ini relevan untuk mencegah munculnya intoleransi, baik terhadap santri yang berbeda latar belakang maupun terhadap komunitas lain di sekitar pesantren.
Di Indonesia, laporan The Wahid Foundation dan Lembaga Survei Indonesia (2016) mengungkapkan bahwa intoleransi di kalangan generasi muda masih tinggi. Kasus-kasus seperti diskriminasi terhadap santri yang dianggap berbeda pandangan atau berasal dari komunitas minoritas agama mencerminkan lemahnya penerapan nilai-nilai toleransi dalam beberapa lembaga pendidikan Islam. Pesantren sebagai tempat pembinaan generasi muda harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang terbuka dan menerima perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Dengan mengintegrasikan multikulturalisme dalam pengasuhan santri, pesantren dapat berfungsi sebagai model toleransi bagi masyarakat sekitar. Program-program lintas budaya, seperti diskusi lintas iman atau kegiatan kolaboratif dengan komunitas non-Muslim di sekitar pesantren, menjadi contoh konkret yang bisa diterapkan.
Melalui praktik-praktik seperti ini, pesantren dapat membekali santri dengan pemahaman tentang pentingnya harmoni sosial dalam kehidupan yang plural, sehingga membentuk individu yang lebih toleran dan siap berkontribusi di tengah masyarakat yang majemuk.
Pencegahan Perundungan dengan Pendidikan Empati