Di antara gemerlap panggung seni 6th jejaring duniasantri di Tebuireng, satu bintang yang sangat cemerlang adalah Nufus. Ia bermain monolog seperti orang yang sedang kesurupan oleh banyak karakter. Dalam hitungan detik, ia berpindah peran, memainkan karakter yang berbeda-beda, dengan sama baiknya. Bahkan tanpa mic pun, perubahan karakter vokalnya terdengar tetap prima.

Saya bersama penyair Mahwi Air Tawar yang menonton pertunjukkan ini di baris kedua, persis di belakang Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, berkali-kali geleng-geleng kepala. Begitu pula Gus Kikin, panggilan akrabnya.

“Siapa bocil ini, keren banget,” bisik Mahwi.
Ya, dia adalah Fahira Hayati Nufus, santri Pondok Pesantren Tebuireng. Gadis belia asal Kota Tangerang, Banten, ini kini duduk di kelas 12 SMA A Wahid Hasyim Jombang. Belum lama ini, Nufus memenangi lomba monolog tingkat SMA se-Kabupaten Jombang. Dan dia berniat akan terus menekuni seni peran.
Darah seni rupanya mengalir dari sang ayah, Junaedi, yang suka berpuisi. Namun, Nufus mulai mengenal seni peran saat masih SMP. Suatu hari ia menonton pertunjukkan teater di Jakarta. Sejak itu, Nufus mulai tertarik seni peran, terutama monolog.
Syang sekali, karena terlambat saya tidak mengikuti pentas Nufus di acara tersebut. Tetapi dengan narasi ini saya bisa mengetahui bahwa ada santriwati yang memiliki talenta luar biasa. Selamat buat Nufus, semoga ke depan semakin sukses,,,