Tadarus Budaya Ki Ageng Ganjur di Pondok Cigaru

134 kali dibaca

Sebagai penutupan kegiatan di bulan suci Ramadan, Pondok Pesantren Pembangunan Miftahul Huda (P3MH) Cigaru, Majenang, Jawa Tengah menggelar acara “Tadarus Budaya Ramadhan” bersama kelompok musik Ki Ageng Ganjur.

Tadarus Budaya Ramadhan ini dilaksanakan pada Kamis sore (28/3) di halaman gedung MTs Pesantren Pembangunan (PP) Cigaru.

Advertisements

Kegiatan ini diawali dengan dialog budaya besama Dr Ngatawi Al-Zaztrouw, yang juga Ketua Dewan Pembina jejaring duniasantri. Setelah dialog budaya, acara dilanjutkan dengan istighosah dan konser musik Ki Ageng Ganjur.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pesantren Cigaru KH Mazin Al-Hajar mengucapkan rasa syukur dan selawat kepada Nabi serta memberikan sedikit pengertian maksud dari tadarus budaya.

“Barangkali ada yang salah persepsi judulnya tadarus budaya, tapi kok tidak ada pembacaan Al-Qur’an sampai khatam,” ungkapnya dengan senyum.

“Tadarus ini asal katanya dari fi’il madi— darosa, artinya pendidikan. Jadi, ya pendidik itu dalam segala aspek, bukan hanya Al-Qur’an, tapi budaya juga termasuk,” lanjutnya.

KH Mazin Al-Hajar juga menjelaskan berapa pentingnya pendidikan budaya untuk sebuah bangsa.

“Tadarus ini wazan dari pada tafakur. Jadi ini anggap saja pendidikan budaya, karena budaya sangat penting sebagai jati diri suatu bangsa. Jati diri bangsa ini juga tergantung dari seberapa besar dan seberapa kuat budayanya,” paparnya

Dalam kesempatan ini, Kiai Mazin juga berpesan untuk terus melestarikan budaya Indonesia, jangan sampai budaya Indonesia tergerus oleh bangsa asing.

“Indonesia negara yang sangat kaya budaya, maka harus kita urip-urip, harus kita lestarikan. Jangan sampai budaya ini hilang. Kalau suatu bangsa kehilangan budaya, budaya-budaya kita tergerus oleh budaya asing, maka jati diri kita sebagai bangsa akan hilang,” demikian pesannya.

Sebelum mulai ke acara inti, Ngatawi Al-Zaztrouw juga menyampaikan sambutan dengan menceritakan bahwa kegiatan di pesantren ini mengingatkannya ketika masih nyantri.

“Acara di pesantren ini mengingatkan pada saya waktu di pesantren. Ini loh seluruh musisi yang ada di sini juga alumni pesantren, bahkan ada yang alumni Cigaru,” tuturnya bangga.

Zastrouw juga menceritakan kisah-kisah di pesantren yang menjadi titik baliknya sekarang ini.

“Ketika dulu di pesantren ya gini kayak adik-adik. Sambil ngapalin Alfiayah, qola muhammadin huwabnu maliki…. Sambil klotekan mejo. Akhirnya lama-lama ketika sudah gede jadi musisi,” kenangnya.

Dakwahnya Beliau lewat musik juga sudah sampai Eropa, Afrika, dan Asia. “Alhamdulillah, kami sudah keliling Eropa, Afrika dan Asia,” tuturnya

Zastrouw juga menceritakan sedikit sejarah terbentuknya grup musisi Ki Ageng Ganjur.

“Musik Ki Ageng Ganjur ini dulunya yang menjadikan Gus Dur. Untuk menjadikan musik sebagai sarana dakwah, dialog lintas budaya,” katanya.

 

Dr. Ngatawi Al-Zaztrow, S.Ag. M.Si juga memberikan sedikit nasehat kepada santri untuk sami’na waatho’na kepada guru.

Setelah dialog budaya dilanjutkan dengan pembacaan istighosah dan tampilan dari beberapa santri. Terakhir, konser budaya Ki Ageng Ganjur, dan diakhiri dengan dengan mahalul qiyam. Acara tadarus budaya ini selesai pada pukul 23.20 lebih.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan