Seabad NU: Meneguhkan Peradaban Islam Nusantara yang Menginspirasi Dunia

1.026 kali dibaca

Ada momen spesial bagi warga nahdliyin di tahun ini. Tepat tanggal 16 Rajab 1444 H atau 7 Februari 2023, Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia seabad hijriyah. Pagelaran Resepsi Puncak Satu Abad NU bakal digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Jumlah peserta yang hadir diprediksi mencapai 1 juta warga NU. Jajaran pejabat, para kiai-ulama, kader struktural, santri, dan seluruh jemaah melebur jadi satu. Semua itu sebagai wujud penghormatan, rasa mahabbah, sekaligus ungkapan syukur atas limpahan rahmat-Nya tiada berbilang.

NU terbentuk dari serangkaian ikhtiar, istikharah, tawakal, dan tirakat para ulama besar. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari merupakan sosok pendiri NU. Di samping itu, KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri juga turut serta mengambil peran sebagai lokomotor pemrakarsa organisasi tersebut. Mereka melihat pergolakan kala itu yang terjadi di nasional maupun internasional sudah sangat merisaukan. Karena itu, NU hadir sebagai agen menciptakan kemaslahatan peradaban.

Advertisements

Seiring dengan perkembangan, NU kemudian bermekar semakin besar. Hal ini ditandai dari jumlah secara populatif naik signifikan. Berdasarkan survei mutakhir, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan, 59,2 persen penduduk beragama Islam di Indonesia berafiliasi NU. Jika umat Islam ditaksir 250 sampai 260 juta penduduk, itu artinya 59,2 persen setara dengan 150 juta muslim Indonesia tergolong warga NU (CNN Indonesia, 2022). Angka yang fantastis untuk ukuran sebuah organisasi kemasyarakatan. Maka tidak heran, NU disebut sebagai ormas terbesar di dunia.

Basis NU (Islam Indonesia) ini juga memiliki reputasi di dunia Internasional. NU (Islam Indonesia) dinilai telah berhasil mengejawantahkan sikap tawassut, tasamuh, tawazun, dan i’tidal pada umat. Banyak negara kemudian takjub, dan bertanya-tanya, apakah corak keislaman ala NU mampu diterapkan di negara lain laiknya Indonesia? Bagaimanakah sebenarnya metodologi NU dalam merawat Islam Indonesia sehingga terbentuk potret damai, harmonis, dan toleran?

Peradaban Islam Nusantara

Jauh sebelum datangnya agama-agama besar di Nusantara, Nusantara sudah dikenal sebagai bangsa yang berbudaya. Masyarakat senantiasa menghiasi hidupnya selama ribuan tahun dengan pelbagai corak tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokal (local wisdom) yang ada. Tak ayal, nilai-nilai etika dan estetika kebudayaan telah mengakar kuat (deep rooted) dalam sendi kehidupan masyarakat. Tanpa disadari, ia kemudian menjadi jalan hidup, dan memunculkan tata nilai yang khas.

Memasuki abad ke-14 M, Islam mulai menemukan momentumnya hadir di bumi Nusantara. Adalah para Walisongo, sosok ulama (dewan dakwah) yang melakukan syiar Islam secara masif. Mereka mencermati bahwa masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, sangat menjunjung tinggi tradisi dan adat leluhur. Karena itu, para Walisongo mengubah gaya dakwah dengan menerapkan pendekatan budaya. Semua tradisi dan kearifan lokal yang eksis dalam masyarakat itu kemudian disisipi nilai-nilai Islam.

Baca juga:   Hilangnya Budaya Islam Nusantara

Sunan Kalijaga, misalnya, menjadikan kesenian wayang sebagai instrumen dakwah. Ia mengakulturasi dakwah dengan seni budaya supaya Islam dapat diterima oleh masyarakat. Saat menjadi dalang, ia menyisipkan dakwah Islamiyah. Lakon yang dimainkan tidak lagi bertema Hindu, tapi mengangkat kisah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu (Pandawa Lima). Dalam tafsirannya, Dewa Ruci sebagai Nabi Khidir, Jimat Kalimasada dimaknai kalimat Syahadat, Pandawa Lima adalah rukun Islam. Sunan Kalijaga bahkan mengganti puja-puji dalam sesaji dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Qur’an.

Berkat kepiawaian Walisongo memodifikasi model dakwah, yakni sangat humanis, arif, inklusif, serta akulturatif, darinya memancar aura positif. Dakwah tersebut sukses diterima, menarik simpati dan hati masyarakat. Timbul dalam benak masyarakat rasa kecocokan (sense of compability) dan merasa nyaman terhadap ajaran Islam. Sejak itulah, titik kesuksesan Islam mulai merebak dan dipeluk masyarakat luas. Islam pun bertumbuh menjadi agama arus utama (baca: mayoritas). Ketenangan serta kedamaian menaungi dalam segala aktivitasnya.

Hingga tiba di abad ke-19, muncul kelompok pembuat “gaduh”, yakni Wahabisme. Ia mengglorifikasi gerakan purifikasi sebagai antitesis dakwah kultural. Tepat di titik inilah, jam’iyah NU hadir menjadi kemudi penjaga sekaligus penerus model dakwah dan penanaman nilai-nilai ajaran Islam Walisongo. NU secara berkala terus menghidupsuburkan kembali, meminjam istilah Gus Dur, gerakan pribumisasi Islam. Kita bisa melacak dari eksistensinya tradisi nyadran, tahlilan, mauludan, ngupati, ruwatan, mitoni, slametan, dan tradisi lainnya. Bahwa itu semua, apa yang ditradisikan NU mengadopsi ajaran ulama walisongo muncul ke publik, disebut sebagai wajah “Islam (di) Nusantara”.

Islam Nusantara sejatinya Islam yang khas ala Indonesia. Ia merupakan hasil dialektika, interaksi, dan kontekstualisasi antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat. Islam Nusantara bukanlah menerapkan prosesi sinkretisme. Justru, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya secara bertahap. Jejak-jejak tersebut menandakan, karakter Islam Nusantara –dari dulu hingga kini– terbingkai sangat ramah, luwes, toleran, nirkekerasan, dan penuh keharmonisan. Islam Nusantara menghasilkan suatu tatanan peradaban beradab penuh kemaslahatan.

Harapan Baru Dunia

Bahwa tidak dapat dimungkiri, fakta empirik peradaban di belahan dunia sedang bergejolak begitu dahsyat. Di sana terjadi “siklus kegersangan”. Terdapat kenihilan platform yang mampu memayungi semua entitas, sehingga menjadikan problem kemanusiaan universal tersebut tak kunjung berkesudahan. Tepat di titik ini, setelah kesuksesan merawat nasional, sudah saatnya Islam Nusantara mengepakkan sayap berkontribusi untuk mengurai sengkarut marut dan menjadi jembatan peradaban global.

Baca juga:   Asal-usul Pengajaran Hadits di Nusantara

Hal ini semakin menemukan relevansinya berlapis tatkala banyak cendikiawan lewat kajian akademis menyimpulkan bahwa referensi peradaban global akan bergeser ke peradaban Islam Nusantara. Prof Fazlur Rahman, pencetus teori Double Movement, mengatakan, Islam Nusantara berpotensi besar akan berdiri terdepan dalam memajukan sekaligus mendamaikan peradaban global.

Sementara itu, cendikiawan lainnya, Prof James B Hoesterey dan Dr Chiara Formichi, juga memiliki pandangan yang sama. Dari pengalaman penelitian yang mereka lakukan di Indonesia, mereka berkesimpulan, Islam Nusantara pasti akan menjadi role model peradaban baru dunia muslim.

Guru Besar Sejarah Islam, almarhum Prof Azyumardi Azra, juga pernah melakukan penelaahan. Ia memperkuat optimisme itu dengan menjelaskan, hingga kini hanya peradaban Islam Nusantara yang terbilang berhasil membuat peradaban lebih damai, penuh ketenangan, dan harmonis. Harapan seperti ini kian meningkat jika kita menilik peradaban Islam Arab, Asia Selatan, Asia Barat, dan Afrika diselimuti konflik dan anarkisme. Bahkan, peradaban Barat, menurut Sir Azra, juga tengah mengalami kemrosotan.

Jika dicermati, setidaknya pasca muktamar ke-33, NU gencar mengkampanyekan “Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Banyak pihak eksternal (manca negara) melirik model keberagamaan Islam Nusantara. Mereka tertarik akan ekspresi keberislamannya yang toleran, penuh kesantunan, menghargai kemanusiaan, dan khas berbudaya. Sebab, sangat sulit menemukan hal yang serupa, suatu negara masih merawat dan melestarikan sikap indigenous tersebut.

Kantor PBNU akhirnya jadi “kelas akselerasi” pendalaman Islam Nusantara. Tercatat tidak kurang dari puluhan duta besar dan ulama penjuru dunia –Barat hingga Timur– mengunjungi kantor PBNU. Kedatangan tersebut bermotif pada hilir yang sama, yakni menanyakan khazanah Islam Nusantara, ketertarikan mengimpor manhaj Islam Nusantara ke negaranya, dan menjalin sinergitas kerja sama berkelanjutan. Semua hal yang dilakukan sebagai pijakan menciptakan masyarakat unggul, adaptif, inklusif, nirkekerasan, dan berkeadilan.

Uraian tersebut mengindikasi kebenaran argumen para cendikiawan. Peradaban Islam Nusantara mulai menujukkan tren positif menjadi referensi bagi peradaban dunia. Meski pada abad pertama telah sukses mengekspor komoditi Islam Nusantara ke belahan dunia, namun ada segudang pekerjaan rumah yang masih dimiliki. Yakni, bagaimana formula peradaban Islam Nusantara itu mampu merangsek hingga ke akar rumput. Karena, bagaimanapun, jika belum menyentuh akar rumput menjadi jalan hidup, peradaban Islam Nusantara hanyalah manhaj yang mengambang. Sangat menarik dinantikan kiprah NU pada abad kedua nantinya.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan