Perkenalan Pertama dengan Gus Dur

2,004 kali dibaca

Tahun 2013, merupakan tahun paling bersejarah sekaligus menjadi babak baru dalam hidup saya. Apa pasal? Karena, di tahun itu, tepatnya ketika saya baru menginjakkan kaki di kelas XII di SMA Negeri 1 Arjasa, Kangean, Sumenep, Madura, saya sudah mengenal salah satu tokoh intelektual Muslim Indonesia yang sangat disegani dan dihormati banyak kalangan, yaitu KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Ini adalah perkenalan kali pertama saya dengan beliau.

Perkenalan saya dengan sosok Gus Dur tak seperti orang pada umumnya yang dapat bertatap muka secara langsung, tetapi melalui salah satu karyanya bertajuk Tuhan Tidak Perlu Dibela terbitan LKiS Yogyakarta tahun 1999. Maklum, tempat tinggal saya jauh dari jangkauan orang, yakni di ujung pulau bagian paling timur dari pulau-pulau yang ada di Kabupaten Sumenep. Kangean namanya. Jangankan bertemu, mengenal lewat televisi (TV) saja sudah menjadi keberuntungan bagi diri saya. Sebab, hanya satu dua orang yang memiliki TV kala itu. Sungguh, kehidupan yang jauh dari peradaban.

Advertisements

Kembali kepada soal Gus Dur. Sebenarnya, perkenalan saya dengan beliau tak bisa dilepaskan dari jasa seorang teman lama. Berkat dia, saya bisa mengenal sosok Gus Dur dan tentu juga pemikirannya. Perkenalan itu bermula ketika saya pulang dari sekolah, di pertengahan jalan saya bertemu seorang teman tersebut dan kebetulan ia baru pulang dari Jawa, tepatnya daerah Yogyakarta, tempat ia menimba ilmu pengetahuan. Kawan saya itu kuliahnya di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

“Nanti malam main-main ke rumah, kalau tidak ada kesibukan,” ajak teman saya sembari berjalan.

“Iya”, jawabku dengan riang gembira, karena baru bertemu.

Ketika sampai di rumahnya, kami pun mengobrol dengan panjang lebar dan ngalur ngedul, dari soal kabar, aktivitas sehari-hari, hingga perkuliahan. Setelah cukup lama kami mengobrol kurang lebih dua jam, tiba-tiba teman saya menyodorkan sebuah buku bertajuk Tuhan Tidak Perlu Dibela itu. Dalam benak orang awan seperti saya, masa iya Tuhan tidak perlu dibela? Bukankah Tuhan harus dibela dari siapapun yang ingin merendahkan-Nya.

Walaupun dalam benak terjadi gejolak sekaligus penolakan (maklum baru pertama), tetapi saya tetap berkeinginan untuk membacanya. Sebab, menurut saya, judul buku itu bertolak belakang dengan cara berpikir orang kebanyakan pada umumnya (seperti cara berpikir saya tadi). Namun, ketika saya baca lembar demi lembar dan halaman demi halaman, akhirnya sampai pada bacaan di bagian 16 halaman 65-68 dengan topik “Tuhan Tidak Perlu Dibela”, pikiran saya dikritik dan diobrak-abrik habis-habisan.

Dalam buku itu, Gus Dur menulis “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.”

Tak hanya itu, Gus Dur, kemudian mengutip pendapat seorang tokoh sufi, Al-Hujwiri: “Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Dari pemaparan teks tersebut, Gus Dur hendak bermaksud mengatakan kepada kita bahwa interpretasi terhadap agama dalam realitas kehidupan, baik melalui aksi maupun dalam bentuk penafsiran atas teks-teks yang dipandang suci tak perlu “mengatasnamakan Tuhan” atau “demi kehendak Tuhan”, apalagi “untuk membela Tuhan”.

Akan tetapi, menurut Gus Dur, seharusnya didasarkan atas kepentingan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri demi terciptanya kesejahteraan bersama. Sebab, boleh jadi apa yang dilakukan seseorang di atas panggung politik yang dinilai bertujuan membela Tuhan “justru malah mengurangi status ke-Maha-an-Nya.”

Akhirnya, meskipun perkenalan kali pertama saya terhadap Gus Dur hanya melalui karya-karyanya, namun hal itu memberikan arti tersendiri bagi diri saya. Melalui Gus Dur (membaca karya-karyanya), saya bisa mengenal pemikiran tokoh-tokoh intelektual Muslim berpengaruh di dunia seperti Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Muhammad Abid al-Jabiri, dan lain-lain. Bahkan, melalui Gus Dur pula, saya diajarkan tentang pentingnya menjalin hubungan baik di antara sesama manusia dan berpikiran inklusif.

Hal ini, tentu saja, tak bisa dilepaskan dari laku hidup dan pemikiran-pemikiran Gus Dur itu sendiri yang dikenal inklusif, progresif, toleran, moderat, humanis, dan lain-lain. Sehingga, gagasan-gagasan yang digulirkan, terutama tentang pemikiran keislamannya masih segar dan bahkan tetap relevan sampai kapanpun (Shalih li Kulli Zaman wa Makan).

Oleh karena itu, orang yang mengenal Gus Dur tak akan menyesal, bahkan ingin mengenalnya lebih jauh. Walaupun, tak dapat dimungkiri bahwa pemikirannya kerap menuai kontroversi, tentu bagi yang tak memahami jalan berpikirnya. Akan tetapi, itulah Gus Dur, sosok yang tak mudah untuk ditebak. Wallahu A’lam.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan