Peran Kejawen dalam Penyebaran Islam

Kejawen merupakan sebuah kepercayaan etnis yang ada di Pulau Jawa, yang sejak dulu diajarkan oleh orang-orang terdahulu mereka secara turun-temurun. Kejawen, dalam ajarannya, adalah cara spritual orang Jawa dalam mengagungkan Tuhan. Selain itu, mistik kejawen dianggap sebagai ilmu yang memiliki ajaran yang paling utama. Yaitu, membangun tata krama dan aturan-aturan cara berkehidupan dengan baik.

Petir Abimanyu dalam bukunya Ilmu Mistik Kejawen menjelaskan, bahwa ilmu mistik kejawen secara etimologi berasal dari bahasa Jawa, yang artinya segala yang berhubungan dengan adat atau kepercayaan Jawa. Sedangkan, secara terminologi, kejawen merupakan sebuah tradisi, adat, sikap, dan laku spiritual serta filosofi orang-orang Jawa. Di sini, kejawen tidak dianggap sebagai agama. Tetapi, sebuah cara pandang atau nilai-nilai orang Jawa yang dibarengi dengan laku spritual.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Mengenai laku spritual mistik kejawen, masyarakat Jawa memiliki banyak macam. Hal ini, sebagai cara untuk mengekspresikan kepercayaannya. Misalnya, ketika malam Jumat Legi atau malam Satu Syuro masyarakat Jawa biasanya akan melakukan ritual-ritual tertentu. Lengkap dengan uba rampe, kembang, sesajen, kemenyan, dan lain-lain. Masyarakat Jawa juga akan melakukan slametan dalam rangka memperingati hari-hari tertentu. Misalnya, slamatan memperingati hari lahir anak, perkawinan, kematian, dan masih banyak lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan masyarakat setempat.

Baca Juga:   Cara Mengatasi Pandemi Menurut Hadits Nabawi

Dalam sejarah, ajaran kejawen sudah ada sangat lama. Ia berkembang sebelum agama Islam datang dan menyebar di Pulau Jawa. Bahkan, ajaran kejawen sudah ada sejak zaman Kabuyutan, zaman di mana Pulau Jawa masih dihuni oleh sedikit manusia. Agama tertua yang ada di bumi pertiwi ini (Hindu-Buddha) pun masih belum berkembang. Dengan demikian, ajaran kejawen sudah ada sebelum masuknya agama Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam.

Tinggalkan Balasan