Mengembalikan Spirit Turats di Perguruan Tinggi Islam

1,832 kali dibaca

Di Indonesia pendidikan tinggi berbasis Islam mendapat perhatian yang cukup mengagumkan baik dari sisi pemerintahan maupun masyarakat luas. Jumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia mencapai 58, belum termasuk yang swasta. Minat yang tinggi ini juga memacu institusi pendidikan tinggi Islam untuk terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.  Berbagai upaya dilakukan untuk memperdalam riset keilmuan pendidikan tinggi Islam. Tidak hanya di Indonesia dan Timur Tengah saja, bahkan hingga ke Eropa.

Semakin berkembangnya pendidikan tinggi Islam di Indonesia ini mendorong terbuknyaa dengan pemikiran-pemikiran yang lebih progresif, modern, bahkan cenderung semi-liberal. Di bidang tafsir, misalnya, kini perguruan tinggi Islam banyak berkiblat kepada tokoh-tokoh seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Syahrur, Mohammad Arkhoun, dan sebagainya yang mengusung pendekatan hermeneutika dalam proses penafsiran.

Advertisements

Di bidang filsafat, kini perguruan tinggi Islam banyak yang merujuk pada tokoh-tokoh seperti Mohammad Abduh, Musthafa Abdul Raziq, Muhammad Abid Al-Jabiri, dan sebagainya. Bahkan di bidang linguistik, perguruan tinggi Islam lebih sering dan lebih merasa keren ketika mengkaji pemikiran Ferdinand D’Saussure, Leonard Bloomfield, Noam Chomsky, dan sebagainya.

Perkembangan dan keterbukaan kajian Islam terhadap referensi-referensi baru tentunya merupakan keniscayaan yang tidak mungkin bisa dibendung. Sifatnya natural dan relevan untuk dijadikan alternatif rujukan dan menambah wawasan. Namun, ada beberapa dampak buruk yang timbul akibat proses perkembangan ini. Yakni, tergerusnya kajian-kajian terhadap turats atau teks-teks Islam klasik. Perguruan tinggi kini sudah melompat, bahkan cenderung memotong sanad keilmuan Islam yang sumber utamanya berasal dari turats. Ada missing link dalam kajian Islam kontemporer saat ini.

Sudah jarang sekali kita dengar kajian-kajian tafsir versi Az-Zamkhasyari, Al-Qurthuby, At-Thabary, dan sebagainya. Begitupula dengan kajian-kajian filsafat Ibnu Rusyd dan Ibnu Aroby. Nasib yang sama menimpa kajian-kajian linguistik Arab versi Khalil bin Ahmad, Sibawaih, Ibnu Jinni, Al-Jurjani, dan sebagainya.

Padahal, para pemikir kontemporer ini rujukan utamanya juga ulama Islam qudama’ dengan masterpiece berupa turats-turats miliknya. Sebagai contoh, mahasiswa sekarang lebih tertarik mengkaji pemikiran fonologi Ibrahim Anis. Namun, kurang tertarik memahami pemikiran-pemikiran Ibnu Jinni sebagai Bapak Fonologi Arab pertama. Padahal, Ibrahim Anis banyak diilhami pemikiran Ibnu Jinni dalam karya-karyanya.

Salah satu karakteristik keilmuan Islam adalah sistem sanad yang sangat kuat. Bahkan, sistem sanad ini dipegang erat oleh ilmu hadits lewat sistem takhrij. Maka, sudah sepantasnyalah sarjana-sarjana Islam menyambung kembali mata rantai turats yang saat ini sudah mulai mengalami penurunan dalam minat kajian maupun minat riset.

Terkadang, kita menemukan sebuah teori dari Barat tentang sebuah hal. Kita mengiranya sebagai hal baru. Padahal sebenarnya hal itu sudah pernah dibahas oleh ulama klasik, hanya kita kurang memperdalam literatur-literatur klasik. Misalnya, kajian tentang fono-semantik yang dikemukakan linguis Israel Ghil’ad Zuckermann. Kajian tersebut adalah studi tentang penerjemahan bunyi yang dikaitkan dengan penerjemahan makna. Hal yang sama sudah dilakukan Ibnu Jinni sejak abad ke-3 Hijriah, tentang Ad-Dalalah Al-Lafdziyah yang mengajukan teori tentang peran fonem, stressing, dan intonasi dalam pemaknaan sebuah kata atau kalimat.

Wibawa keilmuan Islam di Indonesia sudah sepantasnya terbebas dari permasalahan missing link ini. Karena “menghormati jasa pendahulu” adalah identitas bangsa kita. Perkembangan keilmuan tak seharusnya menggerus turats dari jajaran sumber utama referensi ilmu-ilmu keislaman.

Kajian-kajian terhadap tokoh-tokoh klasik dan masterpiece-nya harus dihidupkan kembali di dunia akademik Islam. Karena Islam hidup dari ukiran sejarah yang ditorehkan oleh para cendekiawan klasik di atas tinta emasnya. Jangan sampai perguruan tinggi Islam lupa dengan prinsip seniornya, yakni pondok pesantren.

Wallahu A’lam.

Multi-Page

One Reply to “Mengembalikan Spirit Turats di Perguruan Tinggi Islam”

Tinggalkan Balasan