Mendobrak Pasar Digital: Santri Harus Jadi Content Creator

35 kali dibaca

Pernah kita mencermati dakwah-dakwah keIslaman di media sosial berseliweran? Apa isinya? Siapa yang bicara? Bagaimana cara mereka mendapatkan followers ribuan hingga jutaan? Atau bagaimana cara mereka mendapatkan penonton yang sangat banyak?

Pertanyaan tersebut patut direnungkan dengan seksama, sebab tidak banyak alumni pesantren terutama generasi muda yang muncul di halaman beranda Instagram, For Your Page Tiktok, atau share di story dan grup whatsapp. Barangkali yang sering kita temukan adalah ceramah ulama-ulama sepuh atau potongan video dari tokoh-tokoh besar seperti Gus Baha, Quraish Shihab, Habib Luthfi, dan lain-lain.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Lalu, bagaimana dengan santri-santri muda?

Melihat fenomena dakwah di media sosial, cukup sedikit nama-nama content creator dari kalangan pesantren yang dikenal oleh netizen. Mungkin yang cukup terkenal di kancah nasional ada Habib Ja’far, Gus Miftah, dan lain-lain. Terlepas dari semua pro dan kontranya, namun nama-nama itu berhasil mendobrak pasar digital.

Sebagai seorang penulis konten, menganalisis dan melihat perkembangan trend di media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari trend fashion, kuliner, lifestyle, hingga trend mencari ilmu agama sangat beragam. Lagi-lagi, banyak tren aneh yang kemudian ditiru oleh orang-orang.

Banyak content creator muda di media sosial yang punya banyak penonton dan follower bicara soal keagamaan. Padahal, asal-usulnya tidak banyak diketahui orang. Belajar di mana, pesantren di mana, gurunya siapa, bahkan tidak tahu apakah yang dibicarakan itu sesuai keadaan atau tidak. Lebih jauh, ceramahnya soal agama patut dipertanyakan. 

Namun, yang terjadi tidak demikian. Banyak orang yang menelan mentah-mentah apa yang disampaikan. Artinya, orang di media sosial ini tidak terlalu peduli dengan track record dari content creator tersebut. Mereka hanya butuh informasi yang relate dengan kehidupan sehari-hari.

Jika konten yang disuguhkan mendidik, tentu tidak masalah. Tapi, bagaimana dengan konten campaign yang tidak sesuai dengan keislaman di Indonesia? Misalnya, tahlilan haram, maulidan tidak boleh, tawasulan dibilang tak ada di zaman Nabi, dan lain-lain.

Bahkan tempo lalu, ada public figure yang mengatakan kalau al-Fatihah setelah salat itu tidak boleh atau tidak dianjurkan karena tidak ada dalilnya. Hebatnya, pernyataan itu disampaikan saat menjadi pembawa acara di salah satu stasiun TV swasta.

Dari sekian banyak permasalahan dakwah di media sosial tersebut, saya memiliki kesimpulan sementara yang patut diuji coba kembali, bahwa santri muda harus menjadi seorang content creator dan mendobrak pasar digital khususnya media sosial. 

Dakwah-dakwah keislaman yang santun, toleransi, mudah dipahami, dan mencerdaskan harus bisa disampaikan dengan singkat, padat, dan tidak menimbulkan perdebatan oleh content creator yang berasal dari kalangan pesantren. 

Hal ini tidak mudah. Banyak hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu. Mulai dari literasi digital, algoritma, hingga menyiapkan konten dakwah yang bisa diterima oleh pasar media sosial. 

Saya kira alasan kuat lainnya kenapa santri harus menjadi seorang content creator karena perkembangan zaman dan dominasi masyarakat yang haus akan ilmu keagamaan cukup besar. Bagi mereka yang tidak memiliki waktu atau sudah bukan saatnya lagi mondok pesantren, entah karena usia, tuntutan pekerjaan, dan kesibukan lainnya, solusi untuk kebutuhan batin/pengetahuan seputar keislaman adalah dari media sosial.

Jika di media sosial kita sering melihat dan mendengar tren tertentu seperti culture anak Jaksel, tren hijrah, atau yang lainnya, mengapa kita para santri tidak bisa membuat trend campaign tertentu yang bisa mudah diterima masyarakat media sosial? Misalnya, tren menjadi seorang santri, tren Islam ramah atau Islam fun, dan yang lainnya.

Selain ilmu keagamaan dan kebangsaan, saat ini santri juga harus dibekali ilmu digital seperti copywriting, video editing, campaign, hingga IT. Sebab, keinginan dan kebutuhan masyarakat dalam hal keagamaan sering berjalan bersamaan dengan kemajuan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan