Lelaki Peminta-minta

102 kali dibaca

Lelaki itu tidak pernah berhenti mengangkat tangannya ke langit dan berbicara cepat yang tidak jelas ujarannya. Dia peminta-minta yang selalu kutemui ketika berbelanja ke pasar. Dia bisa ditemui di depan pasar, di parkiran, dan seringkali di dalam pasar. Tapi yang terakhir sangat jarang. Aku tidak melihatnya berhari-hari. Mungkin dia sudah pergi atau diusir oleh petugas. Kamu mungkin juga pernah melihatnya di Pasar Bungkak.

***

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pukul tiga dini hari Pasar Bungkak tampak tenang. Sebuah mobil pick-up datang membawa mentimun, tomat, cabai, kol, dan wortel. Pick-up yang satu lagi membawa boks berisi ikan macam-macam. Pcik-up lainnya lagi berisi batok kelapa coklat, dan pick-up yang lain memuat boks plastik berisi ayam jawa.

Pagi ini aku datang lebih awal dari sebelumnya. Pasalnya jika hari ini berangkat di atas jam tiga, mungkin aku tidak bertemu dengan pemasok sayur. Di jam segini belum ada transaksi maupun penjual yang datang. Tidak lama, penjual buah datang dengan mata masiih mengantuk, dengan air wudhu yang masih menggenang di ceruk mata dan telinga. Penjual itu membawa buah-buahnya ke lapak dekat pintu pasar. Di sana buah-buahnya kadang laku manis, kadang hanya terjual beberapa. Tidak lama setelah penjual buah menempati lapaknya, beberapa penjual ikan dan sayur datang membawa harapan.

Awan mulai memerah. Kokok ayam menjerit pilu karena hendak disembelih. Satu-dua menit pasar mulai riuh oleh penjual. Mereka datang bak air melimpah, penuh. Tak lama setelah langit terang kemerahan, setelah gelap hilang dari langit. Pembeli mulai berdatangan membawa tas cangklong, yang sering mereka gunakan untuk membawa belanjaan.

Pasar sudah tidak terkendali, siang hari membuat semuanya menguap dan peluh mengalir. Punggung dan dahi basah. Lamat-lamat pasar surut. Beberapa penjual mengepak dagangannya: buah, sayur, dan ikan yang tersisa dibawa pulang untuk dimakan sendiri atau dijual lagi keesokannya.

Begitu seterusnya. Semua berjalan seiring waktu berdetak. Beberapa yang masih bertahan cuma pedagang sapi potong dan kios-kios yang menetap dekat pasar seperti warung sembako dan toko perabotan rumah tangga. Ada pula penjual racun tikus yang masih berteriak menawarkan. Sekali-dua kali orang berlalu-lalang sampai langit mulai gelap dan berganti malam.

***

Truk pick-up datang membawa mentiumn, buah, dan ikan dalam boks. Bersamaan denganya pula seorang lelaki bercelana lusuh dan berkaus rombeng berjalan memasuki pasar. Di sana ia berjalan seperti orang linglung. Ketika bertemu orang ia akan mendongak dan menengadahkan tangan sembari berkata dalam bahasa yang sangat cepat sehingga orang itu tak dapat memamah apa yang ia katakan.

Aku terkejut ketika bertemu dengannya. Namun, ada satu kata yang terdengar lirih dari orang itu. Kata yang akrab di telingaku: amin, amin, amin.

Aku segera pergi tanpa menoleh lag i—menganggap lelaki itu gila, dan tak usah diladeni. Tapi lelaki peminta-minta itu terus saja menengadahkan tangan dan berbicara sangat cepat ketika ia bertemu dengan setiap orang.

Begitulah.

Orang-orang pasar lama-lama mengenalnya sebagai orang gila. Sebab lelaki itu memang tidak pernah bicara sepatah pun. Dan kalau pun bertemu orang ia akan melakukan ritualnya. Namun setelah beberapa hari lelaki itu berada di pasar, sesuatu yang tidak pernah disangka, terjadi.

Aku baru selesai berbelanja dan menuju parkiran. Sebuah pohon tua dan besar rubuh menimpa truk dan lapak penjual. Semua orang berteriak, lari kalang kabut menyelamatkan diri. Salah satu perempuan penjual ayam potong pingsan melihat lapaknya hancur. Perempuan lain, penjual sayur dan tahu memalingkan muka. Berseru ‘Allah Akbar’ dan ‘Allah’ di tengah kegemparan yang terjadi.

Juru parkir dan pekerja serabutan yang berada di dekat kejadian segera berlari membawa kapak, golok, gergaji, dan alat potong lain. Mendengar suara minta tolong dari dalam truk, preman pasar segera berlari ikut membantu dan berseru. “Ada orang, ada orang….”

Kerja mereka dipercepat: mengayuhkan kapak, menggergaji batang pohon besar, menancapkan golok tak henti seperti tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Namun itu semua percuma. Pemuda di dalam truk belum bisa keluar. Mereka masih melakukan hal yang sama.

Lalu dari arah timur lelaki peminta-minta berjalan ke parkiran. Ia berhenti di depan pohon itu dan menengadahkan tangan sambil berkata-kata dengan cepat, berlirih ‘amin’. Orang-orang yang melihatnya mengolok-olok dan memintanya segera menjauh.

Namun keajaiban terjadi. Pemuda yang terjebak reruntuhan pohon itu keluar sendiri dengan gampangnya seolah tidak ada pohon yang menimpa truk. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa melongo tidak percaya. Para lelaki yang susah payah memotong batang pohon, turun dan menggoyang-goyangkan tubuh pemuda tersebut. Benar. Pemuda itu memang nyata. Ia selamat.

“Masyaallah!”

“Dia bisa keluar…,”

“Ba-ba-bagaimana bisa?”

“Lihalah, dia tidak apa-apa.”

“Ajaib.”

Lirih orang-orang bersahutan. Mereka tidak percaya yang mereka lihat. Berkali-kali menggeleng dan berseru menyebut Allah. Tapi lelaki peminta-minta sudah tak terlihat di situ. Ia menghilang semenjak pemuda itu keluar dari reruntuhan pohon. Orang-orang di pasar juga tidak melihatnya.

“Ke mana lelaki gila tadi?”

“Bukannya dia di depanmu?” tanya yang lain.

“Aku tidak melihatnya,”

“Tapi kau melihat apa yang ia lakukan.” Perempuan berkerudung coklat mengangguk sambil berkata kurang yakin.

“Ia menengadahkan tangan, berkata sesuatu dengan sangat cepat, dan aku mendengar lirihannya, ‘amin’. Ia bukan sembarang orang.”

“Ia lelaki peminta-minta,” sambungku.

“Maksudmu?” Pertanyaan ini menggantung. Tidak terjawab oleh siapa pun, bahkan mereka tidak tahu siapa nama sebenarnya lelaki itu. Mereka hanya tahu dia bukan orang gila atau orang tidak jelas asal-usulnya. Dia bukan orang biasa.

Aku melihatnya sendiri, dia menghilang secara tiba-tiba di depanku. Yah, kamu harus percaya. Orang itu bisa saja berjalan di depan rumahmu.

***
Pincuk, 26-12-2019.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan