IBU PERTIWI, AKU INGIN KEMBALI

387 kali dibaca

IBU PERTIWI, AKU INGIN KEMBALI

Ibu…
Sesajen harap jiwa-jiwa tempur semakin subur
Erangan runyamnya karbohidrat tergaung jelas di ruas-ruas publik teras
Konon, suara lirih milik jelata terdengar hanya semacam toa penyambut duka

Advertisements

Ibu…
Bentala janji sakral membentang sejauh mata memandang
Eksistensi hal wajib yang harus ada di layar
Arwah hasil bumi tak lagi kami nikmati, musykil tuan dan puan

Ibu…
Sepenggal kisah aparatur negara, mewarnai gerak tegap negeri ini
Sudut-sudut jauh membias
Bukan lagi perihal harum dan ranumnya pencapaian
Bukan lagi anyaman bambu yang membentang amatiran

Ibu…
Negeri ini
Tanah air ini
Kembali mengenang sakralnya jasa pahlawan
Kembali menyuarakan keadilan
Ya, polemik aparat penegak hukum berkumul di bulan tujuh

Ibu…
Aku ingin kembali pada pangkuanmu
Merasakan hangatnya kedamaian
Bersama tuai-tuai gemerincing kehidupan

Baca juga:   PEREMPUAN DARI MASA LALU

Ibuku, Ibu Pertiwi…
Lihatlah negeri ini

KIRANYA TUAN BERSEDIA

Merah putih berkibar di tiap pagar gedung ataupun rumah sebidang tanah
Ia diterpa angin segar janji-janji masam teluk laska
Tapak tilas melumat habis bibir sejarah beserta tubuhnya
Ringkih berkata lirih

_”Merdeka atau mati!”_

hingga serumpunan mata menyalak tajam di balik euforia perjuangan
Tuan
Jendral Sudirman tidak hanya menebar senyum agar negeri ini terbebas dari jajahan
Ki Hajar Dewantara pun tidak hanya menimbun buku sampai usang
Mereka gagah tanpa lelah mengulum doa beserta tubuh yang diamanatkan untuk Nusantara

Tuan
Kiranya sudikah Anda merawat wajah beserta tubuh Indonesia?
Kiranya tak menjadi mayat hidup, pucat pasi tanpa asi.

TABULA RASA, ANAK MUDA

Gambar aestetik terpampang di balik layar
Kesedihan disihir untuk tidak hadir
Warna kulit seakan sama, putih nan bersih
Sesekali tengkorak kepala digoyangkan beserta tulang tangan yang bergerak gemulai

Baca juga:   MATA YANG KEHILANGAN

_”Enyahlah kebisingan negeri, itu bukan urusan kami”_

Setelan lagu terdengar syahdu mengiringi obrolan di bawah temaram lampu.
Di tengah meja, tersaji kopi dan rokok untuk dinikmati semalam suntuk
Terserah apa yang terjadi, terjadilah…

Anak muda
Lekaslah kembali pada hakikat jiwa muda
Segeralah berkemas untuk masa emas
Bersihkan mindset usang yang jauh tertinggal
Saatnya menuai asa dibalik Tabula rasa.

ilustrasi: gapura news/lelang Ikan, ttji tarmizi.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan