Gadis Penembus Hujan

Aku mulai memikirkan cara untuk memecah kesunyian saat berada di rumah, ketika sedang diguyur hujan berjam-jam.

Aku mulai mencari cara untuk tidak kedinginan, dengan menyeduh kopi hitam campur sedikit gula. Cara itu membuatku sedikit lebih baik. Namun, hal itu tidak bisa menghindarkanku dari kebosanan. Aku sudah bosan dengan rak-rak buku yang isinya sudah aku baca berulang-ulang kali. Betapa membosankannya harus melihat tiang-tiang penyangga ruangan. Aku juga sudah bosan menatap kaca jendela melihat hujan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Meskipun begitu, aku tetap melihat hujan di balik jendela kaca. Sampai kemudian aku melihat sesosok gadis yang sedang diguyur hujan di balik kabut-kabut tipis dan pepohonan yang rindang. Setiap hujan gadis itu akan menampakkan diri. Ketika hujan telah reda, ia menghilang di balik kabut-kabut tipis itu.

Aku tidak tahu, gadis itu berasal dari mana. Siapa namanya. Kemunculannya hanya ketika ada hujan turun. Aku mendengar cerita dari orang-orang, bahwa gadis yang aku lihat ketika hujan itu sebenarnya adalah arwah gadis yang malang nasibnya.

Baca Juga:   Tiga Corak Hidup

Dari cerita orang, dulu ada seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Kemudian, gadis itu kabur dari rumah dan menemui kekasihnya. Gadis itu sudah ditunangkan oleh pria kaya raya tuan tanah dari desa seberang. Namun, gadis itu menolak karena dia tidak mencintainya. Alhasil, gadis itu menemui kekasihnya dan mengajaknya kawin lari. Namun, sialnya, kekasihnya menolaknya karena belum siap. Kekasihnya malah menganjurkan gadis itu untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

“Kau adalah kepunyaan orang tuamu. Kau bisa hidup dengan layak, jika menikah dengan tuan tanah itu,” ucap kekasihnya.

Gadis itu diusir oleh kekasihnya. Lalu ia pergi dengan perasaan hancur. Sebenarnya kekasihnya tidak benar-benar mencintainya. Ia sudah tertambat dengan gadis lain yang lebih cantik dan lebih kaya darinya. Gadis itu hancur sehancur-hancurnya. Ia menyusuri jalan dan memilih menembus hujan di bawah petir yang menggelegar. Lebih dari itu, ia tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Terus berjalan. Tiba-tiba berhenti di sebuah jembatan di atas sungai yang mengalir deras. Ia memilih jalan ini, karena menurutnya tidak ada jalan lain ketika seorang perempuan telah terbuang. Ia memanjat sebuah pagar jembatan, kemudian menjerit sekeras-kerasnya, seraya terjun dari jembatan itu.

Tinggalkan Balasan