FRAGMEN MAWAR DAN KUPU-KUPU

KEPADA KEKASIH

jika malam sudah tiba, nabila
pejamkan matamu,
dan lihatlah: seorang penyair
ditindih mati-matian oleh rindunya sendiri
dan kamarnya dipersempit sepi,
kemudian kau berangan dalam jaga:
dialah satu-satunya penyair
yang beriman kepada kata
dan menganggap kekasih sebagai nabinya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Cabeyan, 2021.

FRAGMEN RINDU

Ibu, malam sudah terpejam
tapi aku masih tak bangkit dari kekalahan:
rindu padamu
seperti menanggung selaksa anak panah
punggungku nanar
darah-darah berkelindan.

pada angin berwarna kapas
kata-kata kupahat
biar segala yang bernama embun
lunglai di antara fajar dan pagi
meski kedatangan matahari akan menghapusnya.

Ibu, dongeng-dongeng sudah lama
tak dibacakan
waktu terasa luntur dari kalender
dan jarum jam terasa patah
tapi aku tekun menulis puisi
untuk sekadar meredam rindu_padamu.

Baca Juga:   Bab Tujuh Kata Itu

Cabeyan, 2021.

EPISODE MAWAR DAN KUPU-KUPU

di bawah payung langit biru
angin terasa perlu dipertimbangkan
untuk dijadikan sumber kehidupan
atau tuhan bagi yang bernama keringat.
sebab percakapan takkan pernah usai
di bibir pagi:

“sari butuh dihisap dari bibirmu
dengan mulutku yang menjelma
moncong senapan.”

“silakan, kekasih. tapi penuhi
satu permintaanku. bersihkan debu rindu
di pipiku dengan kibasan sayapmu
yang kelabu!”

sunyi terasa sempurna
embun-embun terjeda
di ubun-ubun secarik mega.
kupu-kupu mengecup bibir mawar
debu rindu hilang dengan sendirinya
dan embun jatuh ke pipi dengan sendirinya.

Baca Juga:   PUISI FILOSOFI PADI

“tugasku sudah selesai, kekasih
aku harus meninggalkan taman ini.”

“meski pun berat hati
aku belajar ikhlas kamu pergi,
dan jangan kau khawatir
embun di pipiku ditewaskan matahari.”

kupu-kupu mengibaskan sayap
lalu pergi.
lagi-lagi mawar harus merayakan sepi. sendiri.

Cabeyan, 2021.

DI PELABUHAN

barangkali ada yang mengetahui
kapan kapal akan merapat ke tepi
kursi-kursi sepanjang malam meggigil sendiri.

Tinggalkan Balasan