Dunia Santri Membangun Semangat Literasi Kaum Santri

154 kali dibaca

Secara etimologis, istilah literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya adalah orang yang belajar. Sedangkan, menurut berbagai sumber, literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga mencakup memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks.

Di zaman yang serba canggih ini, literasi menjadi kemampuan yang wajib dimiliki oleh semua orang, termasuk mereka para Santri. Meminjam isitilah dari Gus Ach Dhofir Zuhry, kata santri didefinisikan sebagai seseorang yang belajar di lembaga pesantren. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa santri dan literasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dan sebagai generasi yang akan menyebarkan ilmu agama di seluruh muka bumi ini, maka literasi adalah kunci para santri untuk merealisasikan keinginannya tersebut.

Advertisements

Hanya, dukungan yang diperoleh para santri dalam membentuk semangat berliterasi belum terlalu maksimal. Bahkan masih ditemukan pesantren yang sama sekali tidak memiliki gerakan literasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya tidak adanya fasilitas perpustakaan, koleksi buku yang sangat jarang diperbaharui, akses teknologi yang belum memungkinkan untuk dijalankan, dan berbagai faktor lainnya.

Namun, hal-hal semacam itu tidak bisa juga dijadikan alasan utama, karena bisa jadi semua itu penyebabnya ada di kesalahan pribadi yang memang tidak menyukai literasi. Para santri terdahulu yang telah berhasil menjadi ulama-ulama besar dan berpengaruh di daerah sekitarnya adalah bukti bahwa di tengah keterbatasan, mereka mampu meningkatkan semangat literasi. Berkat kegigihannya tersebut mengantarkan mereka mampu mewujudkan impiannya. Oleh karenanya membangun semangat literasi di kalangan santri harus menjadi perhatian kita semua.

Baca juga:   Ideologi Pancasila dalam Perspektif Islam

Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam membentuk semangat literasi di kalangan santri, di antaranya adalah, pertama, menyediakan fasilitas tempat membaca. Usaha ini dapat dikatakan sangat penting untuk diwujudkan. Sebab, dengan adanya tempat yang layak bagi santri untuk mengakses buku bacaan, maka semangat literasi akan tumbuh. Apalagi jika buku yang tersedia sesuai dengan kebutuhanya pasti keinginannya dalam membaca juga semakin meningkat. Hal ini juga akan mempengaruhi kemampuan santri dalam menulis. Sebab, membaca adalah bahan bakar utama dalam menulis. Jika banyak membaca, maka menulis akan mudah dilakukan.

Kedua, memberikan ruang publikasi karya santri. Seseorang yang telah semangat menulis akan lebih semangat lagi jika tulisannya dapat dipublikasikan baik ke dalam buku, majalah, koran, dan lain-lain. Untuk itu, pesantren mesti mampu mengambil peluang dari berbagai media yang menerima tulisan atau bisa juga dengan membuat buku karya santri secara bersama, misalnya website pesantren yang diisi dengan berbagai karya santri. Percayalah, jika usaha ini dilakukan semangat literasi santri terutama dalam hal menulis akan semakin meningkat.

Baca juga:   Indonesia: Orientasi Islam Inklusif sebagai Premis Moderatisme

Ketiga, membuat poster berisi pesan ajakan literasi di seluruh lingkungan pesantren. Usaha terakhir ini semakin menguatkan semangat literasi santri yang terkadang bisa naik turun. Dengan membaca pesan-pesan hikmah tersebut, para santri akan semakin percaya diri dengan target bacaannya, target tulisannya, dan target-target lain seputar literasi yang dinginkannya.

Dan, terakhir, adalah melalui website duniasantri yang memberikan kemudahan bagi para santri untuk membaca, menulis, dan mempublikasikan karyanya. Semoga ini membuat para santri memiliki semangat literasi yang terus berkobar, sehingga dapat menjadikan mereka para ahli ilmu yang mampu mewariskan ilmunya lewat karya-karya terbaik dalam upaya menyebarkluaskan pesan-pesan kebaikan dan berkontribusi besar untuk peradaban.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan