BIOGRAFI LUKA

BIOGRAFI SINGKAT LUKA

sebelum airmata itu dituliskan
hujan dan angin lebih dulu
melepaskan pegangan daun-daun di halaman
tanpa setetes pun getah tercipta.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

kemudian senja mempertemukan
mata nanar dengan sebilah pisau kenangan.
mega bertanya, sebenarnya kesedihan ini
diciptakan untuk siapa?

yang ditinggalkan meminta sungai
mengalir di pipinya,
yang meninggalkan membiarkan ombak
menghantam tenteram dadanya.

dan pada akhirnya, air mata itu dituliskan
bersama layunya mawar di halaman.

Yogya, 2021.

MENAKWIL LUKISAN PAMAN
-moh. elman

ini surga: seseorang menuggangi nun
mengikuti laju sungai bening
dari pohon hayat di jantung firdaus.
ia belajar menyampaikan salam
pada batu-batu yang dingin
dan lama membisu.

Baca Juga:   BOLA TAKDIR DAN BUS MALAM

tak ada matahari atau bulan di sini
segalanya adalah cahaya
seperti kaligrafi menggantung
dengan tali yang dipintal dari sorban
para wali.

hanya saja,
seseorang yang nenuggangi nun itu
tak sampai pada biru lautan
tersangkut di antara tanggul kata-kata
dan sirat yang tuhan cipta.

Cabeyan, 2021.

MEMBACA NAMA-NAMA

pada pagi yang gigil. di beranda taman.
banyak daun-daun terlepas dari rantingnya
dan tertulis nama-nama:

//bela
adakah yang tak sekeras kenangan?
ia menjadi ombak. melabrak apa saja.
kata-kataku hampir menjadi keping karang.

//yanti
ia pejamkan mata. meraba-raba puisi
yang berserakan dalam angannya.
tak satupun kalimat yang dirasa keras
seperti batu. ia hanya merasa memegang
wajah selembut sutra. ia membuka mata,
ternyata rindu masih muda dan tersenyum indah.
padanya.

Baca Juga:   DIKSI HUJAN RINDU

//luluk
tangannya menggenggam malam,
bulan berlelehan,
‘tang-bintang jadi manik-manik kenangan.
ia pun berkata: sisa cium di alun-alun
lebih menggigilkan
dari pada embun yang turun semalaman.

Cabeyan, 2021.

Tinggalkan Balasan