Wabah itu Bernama Kebencian

187 kali dibaca

Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Saya tidak tahu sejak kapan fenomena ini terjadi. Yang saya rasakan, sejak beberapa tahun belakangan, ruang publik kita sebagai bangsa begitu disesaki, hingga terasa sumpek, oleh segala bentuk ujaran kebencian yang saling bertindihan. Saling menindih.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dan kebencian itu, disadari atau tidak, seperti virus yang terus menyebar dan menular sampai ke tempat-tempat yang jauh, sampai ke ruang-ruang pribadi. Virus itu terus mewabah. Sampai pada satu titik, kita terkaget-kaget menghadapi wabah baru: bukan Covid-19, melainkan wabah kebencian.

Saya akan berangkat dari peristiwa yang paling hangat saat tulisan ini dibuat. Saat menyampaikan pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2021, Presiden Joko Widodo menyedot perhatian publik lantaran mengenakan busana tradisional masyarakat suku Baduy. Komentar dan reaksi pasti beragam. Salah satunya adalah komentar yang diduga memenuhi unsur pelecehan dan kebencian terutama terhadap suku Baduy.

Dari pemberitaan media kita tahu, komentar itu diunggah oleh Mohammad Bernie Kurniawan melalui akun Twitter @pawletariat. Rupanya, Mohammad Bernie adalah seorang jurnalis. Menyadari kekhilafannya, sehari setelah cuitannya memantik kemarahan, Mohammad Bernie mengundurkan diri dari media tempatnya bekerja, tirto.id.

Mohammad Bernie adalah salah satu contoh paling hangat dan kuat sebagai fenomena puncak gunung es wabah kebencian di ruang publik kita. Disadari atau tidak, salah satu tugas etik bagi seorang jurnalis adalah menjaga ruang publik tetap suci. Ia harus steril dari prasangka. Jika seorang jurnalis saja tak bisa menjaga kesucian ruang publik, bagaimana dengan masyarakat pada umumnya. Itulah bagian dari fenomena gunung es itu.

Kenapa fenomena ini harus kita anggap sebagai ikhwal yang penting, sangat penting bahkan? Sebab, sejarah telah mengajarkan bahwa banyak bangsa-bangsa, negara-negara, hancur tersebab merebaknya wabah kebencian. Siapa bisa menjamin kelanggengan bangsa Indonesia ini jika di antara warganya saling menyuburkan benih-benih kebencian?

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan