TUHAN MENGGELAR PAMERAN

597 kali dibaca

HARI PEMBALASAN

Bilamana hari itu datang semua saling melupakan,
saling meninggalkan, saling meregang, saling tegang.

Advertisements

Saat matanya terbuka
ia merasakan udara dan kulitnya
menari-nari dengan irama pop dansa

Apakah ini mimpi?

Tubuhnya mencoba berdiri
tangannya meraba wajah
leher, dada, perut, dan pusat semesta
ia pastikan kini bukan mimpi

kakinya mencari jalan keluar
menuju arah keyakinan
jejak-jejak lebih dulu berlari
pergi melangkah sendiri

Di depan pintu tak bercelah
Ia menangkap paduan pekik
tangis dan jerit mengemis
bersahutan tak habis-habis

ia terkejut, ingin menolong
tapi wajahnya kosong
sebenarnya ia sedang
di hari itu: hari pembalasan.

Tulungagung, 2021.

SULUK
:Makam Pangeran Benowo

Tengah malam
bulan matang
menuntunku dan sepi
ke puncak damai

Pohon-pohon menjulang
anak tangga berpelukan
jerit binatang
membuka gerbang

Persinggahan pangeran
pengembara zaman
penyempurna serpihan
peradaban kehidupan

Di atas makam
bulan terang
menyalakan keheningan
perjamuan bersama Tuhan

Tulungagung, 2021.

TAREKAT

Kuikuti bayang-bayang yang lebih dulu berjalan,
ke tempat matahari tenggelam.
Kulewati beragam latar dan keadaan
tubuhku tertutup zaman
di tengah alur yang hidup dan kehidupan.

Kutemui malam menyimpan kesepian;
gedung-gedung, warung-warung, kantor-kantor,
pabrik-pabrik dan rumah-rumah di pelosok gang.

Kulihat lampu-lampu gigih gagah berdiri terang
dan tegang di perempatan menghangatkan
kucing yang limbung kedinginan.

Umpama aku punya selimut selamat,

Halaman: 1 2 Show All

2 Replies to “TUHAN MENGGELAR PAMERAN”

Tinggalkan Balasan