Tuhan Maha Rasis

Tubuh legamnya meronta kesakitan. Napas pria berkulit hitam tersebut semakin tercekat. Sementara itu, lutut kaki seorang aparat berkulit putih berdiri merdeka di atas lehernya. Sangat mengekang. Alasannya? Ia ditangkap. Tuduhannya? Karena memakai uang palsu untuk bertransaksi di sebuah tempat belanja. Benar atau tidaknya? Bahkan belum terbukti saat seorang Derek Chauvin terus menekan lehernya yang sedang tiarap di tengah terik siang dan panasnya aspal jalanan. Lantas ia meronta kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mirisnya, si polisi kulit putih tidak menggubrisnya. Pria itu tewas.

Dialah George Floyd, satu dari di antara sekian banyak kaum kulit hitam yang menderita karena “takdir buruk” yang Tuhan berikan. Pria itu sudah sekuat mungkin melawan takdir dengan berusaha mengambil napas; namun semakin ia melawan, semakin besar juga tekanan yang dirasakan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kemarahan publik pun memuncak atas kejadian ini. Unjuk rasa tak bisa dibendung, massa berkerumun di depan Gedung Putih dan mulai mengunci kantor pemerintahan. Penjarahan di mana-mana sebagai wujud berontak, hingga aksi belasungkawa beragam bentuk telah dikoarkan di sosial media.

Baca Juga:   Ibu dan Generasi Milenial

Tak hanya Amerika. Seluruh dunia tentunya berduka. Napas Floyd yang tersekat adalah potret nyata bagaimana ras kulit hitam berdiri dalam bayangan ketakutan. Dan sekarang pertanyaannya? Apakah Tuhan diam saja seolah membiarkan tragedi ini terjadi atau malah bisa berpeluang memicu kejadian serupa di masa depan? Mari kita buka mata bersama.

Rasisme dalam Islam

 Rasisme secara umum adalah segregasi (pengkotak-kotakkan) individu berdasarkan ras. Yang dalam konteks ini dapat dipahami dengan pelecehan dan atau kekerasan baik berupa diskriminasi maupun kontak fisik dari kaum ras mayoritas terhadap kaum ras minoritas. Dalam Islam, perbuatan tersebut tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia. Meremehkan, merendahkan, dan menghina orang lain hanya karena berbeda suku, berbeda warna kulit, berbeda bangsa atau Negara, sangat dikecam dalam ajaran Islam. Bahkan, Islam melarang keras bentuk ta’assub, yaitu membela membabi buta hanya karena berdasarkan suku, rasa, atau bangsa tertentu, tidak peduli apakah salah atau benar, zalim atau terzalimi.

Tinggalkan Balasan