Terbakarnya Pesantren Kami*

Di bawah langit kelabu yang baru saja ditinggalkan oleh bintang-bintang, seorang pemuda berdiri memandangi puing-puing yang berserakan di sekelilingnya. Bakri, seorang santri muda itu, menatap kosong reruntuhan pesantren yang begitu ia cintai. Pesantren itu, yang dulunya berdiri megah di tengah ladang rempah-rempah, kini hancur lebur oleh serangan pasukan Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC.

Bakri ingat betul bagaimana suasana pesantren saat subuh di masa lalu. Suara azan yang merdu mengalun dari menara masjid, memanggil para santri untuk bangun dari tidur dan meraih keberkahan hari baru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren ini bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat penghasil rempah-rempah berkualitas yang terkenal hingga pelosok negeri. Hasil panen rempah-rempah mereka sering kali dipuji oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia yang datang ke pelabuhan terdekat untuk membeli dan membawanya ke negeri-negeri jauh. Namun, semua keindahan itu kini hanya tinggal kenangan. Serangan buas pasukan VOC menghancurkan segalanya. Api membakar habis bangunan, kebun-kebun rempah pun tak luput dari amukan.

Dalam hati yang penuh luka, Bakri tahu bahwa ia tidak bisa berlama-lama meratapi nasib. Ada tanggung jawab besar di pundaknya untuk membangun kembali apa yang telah hancur. Ia bertekad untuk mengembalikan kejayaan pesantren dan ladang rempah-rempah yang menjadi warisan berharga dari para pendahulu. Bakri yakin, di tengah kehancuran ini, Allah masih menyimpan rencana besar bagi dirinya dan desanya. Di balik layar kesedihan ini, terdapat secarik kisah yang mengungkap kebenaran yang tersembunyi di antara puing puing kehidupan ini.

***

Kepulauan Banda 1621.

Saat pesantren masih berdiri kokoh dan dipenuhi oleh suara tawa serta semangat para santri. Bakri, Sahrul, dan Mathew adalah tiga sahabat yang tak terpisahkan. Setiap pagi, mereka bangun lebih awal, melangkah ringan menuju masjid, mengikuti panggilan azan yang merdu dari menara. Setelah menunaikan salat, Bakri, Sahrul, dan Mathew berjalan bersama menuju lahan pertanian yang terletak di belakang pesantren. Udara pagi yang segar dan aroma rempah-rempah yang semerbak menjadi latar belakang sempurna bagi perbincangan mereka. Lahan pertanian yang subur itu dipenuhi dengan tanaman pala, cengkeh, dan berbagai rempah lain yang tumbuh dengan subur di tanah Maluku. Mereka duduk di bawah naungan pohon besar, menikmati semilir angin yang mengusir rasa penat setelah belajar.

“Penjualan rempah-rempah kita semakin menurun,” Bakri memulai percakapan dengan nada serius. Ia menatap hamparan kebun yang terbentang di hadapannya. “Harga yang kita dapatkan dari pedagang sekarang tidak sebanding dengan kerja keras yang kita lakukan. Dulu, rempah-rempah kita dihargai sangat tinggi, tapi sekarang, nilai pasarnya terus menurun.”

Sahrul, dengan tubuh kekar dan berkulit gelap, mengangguk setuju. “Aku merasakan hal yang sama,” katanya. “Keluargaku juga mengalami kerugian dalam penjualan rempah-rempah. Kami dulu bisa hidup dengan sangat baik dari hasil panen, tapi sekarang keuntungannya hampir tidak ada. Ada apa sebenarnya? Kenapa pasar bisa berubah seperti ini?”

Mathew, seorang santri baru yang belum lama tinggal di pesantren mendengarkan dengan penuh perhatian. Sebagai anak keturunan Belanda, ia membawa perspektif yang berbeda. “Aku mendengar dari para pedagang di pelabuhan banyak pedagang Eropa, terutama VOC, yang sekarang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah,” katanya dengan nada hati-hati. “Mereka ingin mengendalikan harga dan pasokan untuk menjadi penguasa tunggal. Hal ini membuat harga di pasar lokal menjadi lebih rendah.”

Bakri menghela napas berat. “Aku juga mendapat informasi tentang organisasi VOC yang ingin menguasai pasar kita, dan akibatnya, kita yang dirugikan. Padahal, rempah-rempah ini adalah hasil dari kerja keras kita”.

Mathew terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara pelan, seolah takut seseorang akan mendengarnya. “Sebenarnya, aku ingin memberitahu kalian sesuatu. Aku memiliki kenalan seorang bangsawan di Belanda. Dia tertarik untuk bekerja sama dengan kita. Dia mengatakan bahwa dia bisa membantu kita menjual rempah-rempah ini kepada pembeli dengan harga yang jauh lebih tinggi. Bagaimana menurut kalian?”

Bakri dan Sahrul saling bertukar pandang, tidak menyangka mendengar hal ini dari Mathew. Tawaran itu terdengar menarik, terutama di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Namun, mereka tahu bahwa Kiai Dahlan sudah menolak dengan tegas semua bentuk kerja sama dengan pihak asing yang hanya ingin merugikan rakyat.

Mathew tampak bimbang. “Aku paham keraguan kalian, tapi percayalah padaku, kenalanku ingin membantu karena dia merasa bahwa rakyat di sini telah dirugikan oleh VOC dan pemerintah Belanda.”

Ketiganya pun memutuskan untuk menyimpan pembicaraan itu sementara, menyadari betapa rumitnya situasi yang mereka hadapi.

***

Tinggalkan Balasan