duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Tasbih Umi

“Du, Badu…!”

“Iya Mi?”

Advertisements
Cak Tarno

“Lihat tasbih Umi nggak?”

“Lah, bukannya di cantolan kamar.”

“Itu kan yang biasa. Yang elektronik itu loh. Yang kecil.”

Badu tak tahu menahu soal letak tasbih itu. Bentuknya memang cukup kecil, dan berwarna gelap. Sengaja dipilih warna itu agar tak terlalu mencuri perhatian. Umi tak mau bila dia disangka orang alim karena ke mana-mana membawa tasbih. Meskipun, di sisi lain hatinya, dia juga tak peduli apa kata orang. Karena, menurutnya, bila ibadah ikut apa kata orang, tak akan ada habisnya. Cukup meyakini apa yang telah dipelajari. Lalu mengamalkannya.

Baca Juga:   Sang Muazin Turun Gunung

Siang itu si Badu tak tenang. PR fisikanya mangkrak di atas meja belajar. Ps3 yang sedang diputar untuk mengusir kejenuhannya tetap pada tombol pause. Melihat Umi-nya mondar mandir gelisah, ia tak tega. Terlebih mentari sudah hampir berubah mega. Tapi tanpa tasbih itu, ashar yang dilaksanakan tak akan setenang biasanya. Pikirannya akan melayang menuju setiap sela kecil di antara perabotan, di seluruh penjuru griya mereka.

Baca Juga:   Si Bisu Mengaji

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan