Tak Kenal Wayang, Maka Tak Sayang

267 kali dibaca

Rating wayang beberapa hari ini mulai mencuat. Ia kini berposisi sebagai bahan diskusi yang renyah. Banyak kalangan yang turun langsung ke ‘medan laga’. Misi yang mereka bawa sama; menangkis khalayak dan menepis tuduhan seni budaya yang kian terkikis. Mereka satu tujuan; merespons pernyataan Ustaz Khalid Basalamah yang menyatakan di kanal youtube bahwa wayang hukumnya haram dan harus dimusnahkan.

Para pendakwah menepis tuduhan itu dari podium ke podium. Pun demikian dengan para penulis. Mereka mengasah penanya untuk menangkis pernyataan tersebut dari media ke media. Selain mereka, para dalang juga seketika bagai harimau yang bangun dari tidurnya. Kumisnya berdiri. Wayang-wayang yang jadi sasaran ‘ghibah’ seolah juga mulai melepas diri dari batang pohon pisang di panggung-panggung pergelaran. Mereka hendak urun argumen tentang eksistensi wayang yang senyatanya penyayang. Mereka mau menunjukkan bahwa substansi wayang adalah keselamatan dan kasih sayang.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Oleh karena itu, agar wayang tak sekadar terlintas dalam bayang-bayang, perlu kiranya kenalan lebih dulu apa itu wayang, bagaimana sejarahnya, apa tujuannya, dan lain semacamnya.

Di dalam buku Mengenal Kesenian Nasional 1 Wayang ini, Kustopo selaku penulisnya menyatakan bahwa wayang berasal dari bahasa Jawa “wewayangan” yang berarti bayangan. Dikatakan wayang atau wewayangan karena pada zaman dulu untuk menonton wayang, penonton berada di belakang layar yang disebut kelir, sang dalang memainkan wayang yang diterangi lampu sehingga menimbulkan bayangan yang menempel pada kelir pertunjukan (hlm. 1).

Kelir pertunjukan terbuat dari kain putih yang membentang membatasi antara dalang dengan penonton. Penonton tidak bisa melihat dalang secara langsung, melainkan hanya bisa menyaksikan bayangan wayang yang seakan-akan bayangan wayang yang menempel pada kelir tersebut adalah manusia yang hidup.

Kustopo dalam buku ini juga mengulas sejarah wayang. Ia menulis bahwa sebagaimana di dalam Kitab Centini, asal-usul kesenian wayang diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri. Pada abad ke-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar (hlm. 2).

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan