SIUL GADIS KOTA

151 kali dibaca

SIUL GADIS KOTA

Mengabur bulir hitam di kepala
Dawai angin mesra menyapa
Membakar langit-langit dada mendinding tawa
Termangu aku menatap biru matanya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Di penjara surga kini
Melengking sepi bernyanyi tiada henti
Tiada berbatas aku bernyawa dengan kutukan
Tiada ratap terbaring di ini jalan.

Kau memaling menutup pintu keramaian
Sedang aku kembali berserah diri
Mengetuk ribuan rahasia di ambang jendela.

Ampas kopi diriku, merangkaki damai
Di mana bayang-bayang bertebaran
Memuja cedera lonceng berdentang.
Berdarah angka-angka di dinding tersalib kencang.

2020.

BUKANLAH PELABUHAN

Bibirmu bukanlah pelabuhan
Bagi kapal-kapal tua yang mabuk:
Tiada puas bergentayangan di laut lepas.

Bukan pula harum suci kembang
Bagi sembarang kumbang datang bertandang.

Jauh di tebal kabut daging kota-kota
Ia, membacamu dengan kebutaaan,
Meniduri segala yang bernama kecemasan
Mengingat kau rumah untuk pulang.

Petikan kecapi yang mengalun sendu
Pada rimbun dedaunan kepala pegunungan.
Di dahan jiwa, aku memastikan bayang padamu.

2020.

PADA SEBUAH PIJAR

Betapa pagi memekarkan kelopak usia
Dari batang-batang akasia yang ranum di tubuhmu

Legam langit menggantung rindu-rindu
Tercurah di ladang dadaku.

Di hari lain, kupeluk potret tubuhmu
Kubisikkan suara asing dari sirip cahaya
Menangkup nasib buruk
Sebelum aroma-aroma melesat
Dan kita, termanggu di dasar kata.

Selamat berpijar, sayang
Mari rayakan kelahiranmu.
Karena di pelataran ini aku ramu kenangan

Dari daun masalalu dan penantian.

Maka kujadikan ia simfoni cinta

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan