SILSILAH LUKA KETURUNAN PERI

SILSILAH LUKA

Selalu, aku ingin abadi
Berdiam merunduk diri dalam keasingan,
Membacakan isi karat kepala pada malam.
Sedang di rimbun hijau yang jauh
Dari kutukan membentang sejarah luka-luka tercipta.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Aku bangunkan mata dari pagi
Yang kerap kali menggugurkan derita
Angin lalu di tubuh perjaka kota-kota.

Menjelang lupa diri pada jari-jari waktu,
Yang menjadi ribuan detik kebiadaban.
Perlahan dalam keasingan kulukis terang.

2020.

DI PENGUJUNG MALAM

Di pengujung malam
Sunyi berkumandang

Dan di kepalaku, rindu akan dirimu
Semakin berkelebat dahsyat
Seperti menginginkanmu yang tak berkompromi
Dan berpendapat di sebuah diskusi.

Pada putih rambut malam
Kusisir kerinduan
Sembari membayangkan aroma kopi
Dan pertemuan seakan terjadi

Baca Juga:   Tradisi Perayaan Nuzulul Quran

Di ambang pintu
Binar matamu adalah penanda
Bahwa kau adalah keturunan peri
Yang mesti aku abadikan pada bait puisi
Dan ingatanku yang mulai samar-samar.

Yogya, 2020.

HANYA DENGAN BERPUISI

Sering kali aku pungut bunga-bunga
Yang menghias indah pada setiap pandangan
Di mana cinta begitu kekal di dasar ingatan.

Di kejauhan burung-burung bernyanyi
Begitu pun bayang-bayang kerinduan,
seperti jalan berliku tajam di kehidupan
Yang penuh dengan permainan.

Pada mekar bunga-bunga
Kupu-kupu hinggap, datang dan pergi
Menanggalkan keindahan pandangan
Dan meninggalkan jejak kerinduan.

Hanya dengan berpuisi
Aku dapat mengendapkan luka
Yang begitu perih dalam dada.

Baca Juga:   RENCANA MEMBUNUH TUHAN

Yogya, 2020.

RISALAH PENGHARAPAN

Pada tangis serta harap cinta
Aku mencarimu di balik kerinduan
Di mana keutuhan rasa selalu berdiang
Seperti kesiur angin di pengujung malam

Sedang pada pesona cahaya
Yang menyimpan banyak luka,
Aku terus berpura-pura menutupi segala.

Harus bagaimanakah aku menanggung
Beban cinta dalam dada ini?
Setelah semerbak bunga-bunga
Tak lagi tercium. Dan kerinduan
Semakin membuatku paham dan candu.

Tinggalkan Balasan