SAJAK-SAJAK UNTUK PUTRI

123 kali dibaca

/1/
Matamu embun di antara seluk rumput gajah:
sejuk merengkuh duka yang doyan mendesah,
bening menyedu kasih dalam secangkir rindu,
suci menginang lapang untuk gerimis yang tak selalu manis.

Kuselami sudut-sudut matamu yang kering air mata,
berharap kutemui permata yang kau sembunyikan sejak lama.
Tak ada apa-apa,
yang tersisa hanya beberapa biji putus asa.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kucabut semua biji yang hampir berkembang,
menggantinya dengan biji-biji kasih sayang

/2/

Aku mulai bisa menangis, katamu.
Itu luka yang mengikis, kataku.

Apa itu air mata, tanyamu.
Bahasa rasa, jawabku.

Aku sangat bahagia, ungkapmu.
Air mata memang pandai becanda, sahutku.

Menangislah,
sebab usapku jauh lebih luas dari tetesmu.

/3/

Esoknya kau kembali,
membawa hati yang hampir mati.
Kau berujar tak akan lagi memiliki hati.
Kuperiksa napas hatimu,
masih kudengar denyut yang berpacu.

β€œIa masih bisa hidup, asalkan ada hati lain yang berkorban.”
Kataku tentang hatimu.

Kuambil hatiku,
kusandingkan dengan hatimu.
Mencipta kehidupan baru.

/4/

Dulu kau berkata bahwa aku seorang penipu,
tapi adakah manusia yang tak suka menipu?

Dulu kau menyebut aku seorang pembual,
namun siapa yang dalam hidupnya tak pernah membual?

Sekali lagi kutegaskan, itu hanya dugaanmu, Putri.

Aku memang pernah menipu diriku sendiri,
bahwa tak ada cinta yang tidak main-main.

Aku memang pernah membual tentang cinta dan drama di ujung senja kota buaya.

Namun tak ada tipu dan bual saat memandang matamu, Putri.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan