SAATNYA MEMANEN MASA LALU

45 kali dibaca

SAATNYA MEMANEN MASA LALU

 

Ketika senja itu tenggelam di matamu

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Aku melihat gurat sembilu

Tumbuh di antara ladang-ladang pengharapan

Yang dulu kau sirami dengan pengkhianatan

Di sana, ada banyak cerita yang menderita

Berwujud tangis yang tragis

Lantas bersimpuh di wajahku

Memohon tak menjadikannya masa lalu.

Katanya, raja itu kini menang

Dengan bukti mengempaskan seluruh kenangan

Yang pernah dipanennya

Sewaktu masih bersama-sama

Sejatinya aku tidak sakit hati karena itu

Sebab aku menganggapnya hanya angin lalu

Tapi, aku lebih sakit hati

Bila raja itu

Diam-diam mencampakkanku serupa debu

 

2019

 

KEPADA YANG MENCINTAI HUJAN

 

Malam ini, barangkali engkau ingin bertanya

Siapakah pemilik kucing-kucing yang sedang berkeliaran?

Mereka berlarian mencakar semesta

Mencari alamat seluruh kenangan bermula

Dari seberang senja itu

Aku mengintai seseorang menanam rembulan di hatimu

Supaya benderang dan tak ada yang terlewati

Dari memandang tubuh hujan paling sejati

Rasa-rasanya aku sadar, aku adalah tujuan

Dari hujan yang sengaja dijatuhkan

Ke jurang paling dalam

Tempat segala dusta disamarkan

Ingatlah, bahwa aku tidak mencintai hujan

Kecuali hujan yang jatuh dan kehilangan

2019

BERKALUNG TUBUHMU

 

Malam yang berselimut keheningan

Selalu membuatku gagal bertahan

Dari rayuan kesiur wajah purnama

Yang kian mengintaiku dari lembah luka

Ketika itu, aku melihat matamu yang pasrah

Melepah jubah kenangan tanpa resah

Membiarkan aku berkelana

Berkalung tubuhmu yang tak lagi sempurna

Ke sana-kemari aku berlari

Mencari ribuan kota yang kau tangisi

Sebelum aku pandai menggoda puisi

Apalagi memilih diksi.

“bukankah ada, bu?

Tempat paling ranum di hatimu

Yang menjual penyakit macam rindu?”

Sebagai jawaban kau hanya tersenyum lesu

Namun, aku sudah menafsiri itu

Sejak kau mendadak beku.

2019

Multi-Page

Tinggalkan Balasan