Potret Perempuan yang Mendahului Zaman

Dalam sosial kemasyarakatan, perempuan memang selalu mendapat posisi yang kurang menguntungkan. Walaupun, penindasan terhadap perempuan memang sudah terjadi sejak zaman dahulu dan berlangsung hingga hari ini dalam bentuk yang berbeda. Perempuan yang memperjuangkan keseteraannya tentu berbeda-beda dalam gerakannya.

Salah satunya dalam buku novel biografi ini yang menceritakan secara detail kiprah perempuan yang mendirikan madrasah dan menegakkan hak-hak perempuan sejak era kolonial. Perjuangannya untuk memberikan ruang ekspresi pemikiran tentu harus diapresiasi meski harus bertentangan dengan tradisi Minangkabau yang sangat kentara ketika itu. Karenanya, di dalam buku ini kisahnya dipotret dari berbagai sisi perjuangan yang tidak mungkin dilupakan oleh khalayak.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tokohnya dipanggil dengan Rahmah di dalam buku ini. Ia bernama asli Rangkayo Syekhah Rahmah El-Yunusiyah, seorang tokoh perempuan yang memperjuangkan nilai-nilai feminisme dari Sumatera, membongkar dominasi tradisi Minangkababu yang semena-mena terhadap perempuan.

Baca Juga:   Wejangan dari Kiai

Sejak masa kecilnya, ia memang sudah berhasil menyemai sikap sebagai seorang perempuan yang mendahului zaman. Ia belajar menjahit, menyulam, memperhatikan kakak dan ibunya berkegiatan di dapur, merengek pada kakaknya untuk diajari tulis baca huruf latin. Sejak pandai mengaji dan tulis baca, Rahmah sudah tenggelam dalam buku-buku. (hal. 15)

Nasibnya naas karena ia sudah dikawinkan sejak kecil oleh orang tuanya. Meski pada akhirnya pernikahannya harus berakhir dengan perceraian. Rahmah yang menikah muda menjadi agak canggung namun ia jalani. Kemudian jalan bersimpang dua, bercerai pada 1992, karena suaminya lebih cenderung kepada pergerakan sedang Rahmah pada pendidikan. Keduanya sepakat menyudahi rumah tangga yang baru itu. Tanpa anak. (hal. 25)

Baca Juga:   Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama, Pedoman Berpikir Santri

Sejak saat itulah, ia bangkit hingga menjadi seorang perempuan inisiator dalam berbagai ranah. Ia seringkali berdakwah, mengaji, berdiskusi, berdebat, berpidato, membimbing ibu-ibu muda (hal. 84). Ia dikenal sebagai seorang pendidik perempuan dalam memperjuangan hak-haknya di tengah masyarakat meski dalam perjalanannya ia seringkali mendapatkan cobaan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan