Peran Signifikansi Humor di Kalangan Pesantren

Kiai Bisri Syansuri yang terkenal ketat soal fikih menanggapi bahwa kurban sapi hanya untuk tujuh orang. Meski orang itu mengemukakan bahwa anggota keluarganya yang nomor delapan adalah anaknya yang masih berumur tiga bulan, Kiai Bisri tetap bersikukuh dengan jawabannya; tidak bisa.

Merasa tidak puas, orang tersebut akhirnya mengadu kepada Kiai Wahab. Kiai Wahab menjawab, “Agar anakmu yang masih kecil itu bisa naik ke punggung sapi, harus pakai tangga. Sampean sediakan seekor kambing agar anak sampean bisa naik ke punggung sapi.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Spontanitas orang itu merespon dengan semangat, “Siap, Kiai. Jangankan satu, dua pun siap.”

Baca Juga:   Saatnya Pesantren Melawan Pandemi

Sesuai dengan teori Jalaluddin Rakhmat, kisah ini masuk ke teori bisosiasi. Ada kejanggalan, tetapi kisah tersebut menyuguhkan humor yang penuh makna. Ketegasan prinsip Kiai Bisri Syansuri itu sangat penting untuk menjaga integritas norma agama, tetapi strategi fleksibel sebagaimana diusung Kiai Wahab juga merupakan strategi efektif untuk merangkul masyarakat agar tetap berada dalam bingkai norma agama.

Baca Juga:   Pandemi Covid-19: Antara Introspeksi dan Sadar Relasi

Humor bermanfaat untuk kesegaran dan keceriaan hidup. Para kiai ternyata juga memiliki selera humor tinggi. Humor tersebut merupakan spontanitas dan menjadi bagian dalam memahami dunia pesantren yang sejatinya sangat kaya warna.***

Tinggalkan Balasan