Peran Kejawen dalam Penyebaran Islam

Tentu saja, hal ini tidak terlepas dari asal-usul mistik kejawen itu sendiri. Menurut penulis buku ini, mistik kejawen berawal dari dua tokoh misteri, yaitu Sri dan Sadono. Sri sejatinya adalah penjelmaan dari Dewi Laksmi, istri Wisnu. Sedangkan, Sadono adalah penjelmaan dari Wisnu itu sendiri. Keduanya sesungguhnya adalah suami-istri yang menjadi cikal bakal kejawen (hal: 25).

Akulturasi Islam-Jawa

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kejawen memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa, yaitu ketika Islam dibawa oleh Wali Songo untuk menyebarkan ajarannya. Karena, hal ini dianggap lebih gampang untuk pelan-pelan menyampaikan kepada masyarakat tentang syariat Islam. Yaitu dengan memasukkan unsur kebudayaan dan tradisi Jawa agar mudah diterima serta dipahami oleh masyarakat kala itu.

Misalnya, seperti pertunjukan wayang kulit dan dendangan lagu jawa, para tokoh Wali Songo (khususnya Sunan Kalijaga), menggelar acara demikian. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat, yang nantinya ajaran Islam pelan-pelan dimasukkan dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga:   Mengenang Jumatan ala Hasbi Ash Shiddieqy

Sebagai bentuk pengenalan masyarakat Jawa kepada agama Islam, Sunan Kalijaga selalu menggelar pertunjukan wayang kulit di halaman masjid, yang di sekelilingnya diberi parit. Parit ini nantinya berguna sebagai tempat membasuh kaki para penonton sebelum masuk masjid. Hal ini, sebenarnya menjadi simbolisasi dari pelaksanaan wudhu yang disampaikan secara pelan-pelan.

Selain pertunjukan wayang kulit, para wali juga menyebarkan dendangan lagu Jawa yang bernuansa simbolisasi ajaran Islam. Misalnya, lagu Ilir-Ilir yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Yang mana lagu tersebut memiliki makna-makna yang sangat dalam dan berguna untuk selalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, pada kata cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo seba mengko sore. Cah angon adalah simbolisasi dari manusia sebagai khalifah fil ardl atau pemelihara alam bumi ini (angon bumi). Penekna blimbing kuwi mengibaratkan buah belimbing yang memiliki lima segi membentuk bintang. Kelima segi itu adalah pengerjaan rukun Islam (yang lima) dan salat lima waktu. Lunyu-lunyu penekna berarti tidak mudah untuk bisa mengerjakan keduanya (rukun dan salat lima waktu) dan jalan menuju Surga memang tidak mudah. Adapun, kanggo sebo mengko sore artinya untuk bekal di hari esok (hal: 124).

Tinggalkan Balasan