Pendidikan Pesantren (3): Sorogan dan Transmisi Keilmuan

Model pembelajaran dahulu tidak tersistem secara legal-formal. Pusat pendidikan pun masih berada di surau, langgar, masjid, atau rumah seorang guru. Di mana murid-murid duduk di tikar atau lantai, menghadap sang guru dan belajar mengaji bersama. Menurut beberapa pakar, sistem pembelajaran demikian merupakan embrio berdirinya pesantren di kemudian hari. Berarti, sistem pendidikan pesantren hampir sama dengan sistem pembelajaran nonformal semacam itu, hanya lebih intensif dan terkadang dalam waktu cukup lama.

Pesantren memiliki dua corak pendidikan, dan keduanya kental sebagai tradisi pesantren. Dua corak itu sebagaimana disampaikan di awal tulisan ialah bandongan dan sorogan. Sistem bandongan telah dijelaskan di tulisan sebelumnya. Sedangkan, sistem sorogan memiliki ciri tersendiri, di mana kiai hanya mengajar beberapa santri, sekira 1-10 santri, setiap santri maju satu per satu membacakan kitab yang sedang dikaji di hadapan kiai langsung.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sistem ini juga diterapkan di pesantren tempat saya menimba ilmu, lebih-lebih untuk mahasiswa semester akhir, yang mana prasyarat kelulusan adalah mampu membaca kitab Fathul Mu’in. Setiap bakda maghrib, kami melakukan sorogan kepada asatiz yang telah ditunjuk oleh pimpinan pesantren untuk mengampu santri-santri mahasiswa semester akhir dalam mendalami kitab tersebut.

Baca Juga:   …, Trump, dan Lain-lain

Satu-per satu kami membaca maqro’ (teks kitab yang harus dibaca), ustaz akan menyimak dengan saksama. Setiap kata dii’robi (diungkap posisinya sebagai apa dalam struktur kalimat, bila bahasa Indonesia memiliki struktur SPOK, hampir sama dengan bahasa Arab atau kitab kuning), harus dibaca dengan benar. Apabila ada kekeliruan dalam bacaan, ustaz akan membenarkan. Prosesi belajar semacam ini memerlukan waktu yang cukup lama dan ketelatenan serta kesabaran, bahkan mental yang tangguh. Sebab, saat membaca dan diketahui banyak yang salah, tak jarang rasa minder kepada sesama teman muncul, sembari membatin: ternyata aku bodoh, ya.

Baca Juga:   Pesantren dan Wajah Inklusivitasnya

Sistem pembelajaran sorogan ini penting. Dalam kegiatan ini, seorang santri diuji betul kemampuannya membaca kitab, membaca di sini baru sebatas tepat harakatnya, karena masyhur bahwa kitab yang dibaca kitab gundul, tidak ada harakatnya. Membaca benar belum tentu tahu maksudnya, memahami dengan tepat kandungan makna dari teks yang dibaca. Konteks ini saja, perlu latihan yang serius dan mendalam, bahkan terkadang dituntut untuk mencari perbandingan dengan kitab lain yang masih satu disiplin.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan