Pakdhe

Lelaki tua itu datang sore ini. Ia membawa onthel kesayangannya. Tak lupa ia membawa capil lusuh berwarna kuning tua. Memakai kemaja baris-baris dan celana yang tak jelas antara warna abu-abu atau hitam. Sepertinya ia telah menyelsaikan kebiasaanya setiap hari kamis sore, mengunjungi kuburan sekaligus membersihkan rumput-rumput yang mengerubungi makam orangtua dan sanak familinya.

Kuhampiri ia sambil kulemparkan senyum mengembang. Ia balas senyumku dengan tatapan yang teduh dan pertanyaan sederhana, “Piye kabarmu, Ziz?” Dengan cekatan kucium tangannya yang hitam dan kasar itu. Sangat kasar. Bisa kau bayangkan tangan yang saban harinya digunakan untuk ngarit dan kadang juga memotong kayu-kayu besar untuk diantarkan ke pabrik mebel itu bertabrakan dengan tanganku yang lebih banyak kugunakan untuk bermain gadget dan sesekali saja membuka buku dan mencatat.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Terjadilah percakapan antara aku dan dia. Layaknya basa-basi, aku pun tak mau kalah untuk bertanya tentang kabar ia, keluarganya, dan anak semata wayangnya yang usianya tidak terlalu jauh di bawah usiaku.

Baca Juga:   Penembak Hari

“Dia sudah lama kusekolahkan di Pondok Petung. Syukur alhamdulillah sudah berlalu dua tahun dan sepertinya ia sudah kerasan di sana.” Jelasnya.

Wah, cukup lama sudah aku tak bertemu dengan putra tunggalnya. Terakhir kali aku tahu kabar tentangnya adalah ketika ia masih dipondokkan di daerah pesisir Brondong dan itu pun kerapkali aku tahu ia pulang seenaknya. Pernah sekali waktu aku berpapasan dengannya. Kulihat ia seperti tak kerasan di pondoknya itu, senyumnya pun seperti lenyap entah ke mana, hanya tampak wajah yang murung dan acuh. Dan di pondok itu ia akhirnya bertahan hanya satu tahun saja, kemudian pulang dan tidak mau sekolah.

Tinggalkan Balasan