Negeri yang Terpilih

Malam itu terasa amat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Langit tampak begitu bersih, jernih, dan terang benderang. Kilau bintang bertaburan memenuhi angkasa, dan tak terlihat selembar pun awan yang menggantung atau terbang melayang. Dari laut yang airnya berkilauan angin berembus perlahan. Gelombangnya serasa enggan untuk memecah di tepian pantai, dan lebih memilih saling berangkulan di bawah kilau bintang gemintang. Semilir angin menerpa pepohonan. Daun-daun saling melambai, saling memanggil. Malam terasa begitu khidmat.

Malam itu Tuhan memanggil seluruh malaikat untuk berkumpul. Dan ketika malam telah sampai pada puncaknya, pertemuan pun dimulai. Satu per satu malaikat diminta melaporkan perkembangan kondisi dan suasana alam semesta. Bergiliran, para malaikat memberikan laporan secara terperinci. Setelah semua malaikat memberikan laporannya, Tuhan pun kemudian menyampaikan titahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kalian masih ingat apa yang pernah Aku lakukan pada kaumnya Luth dan Nuh?”

Para malaikat terdiam. Suasana senyap.

“Kalian masih ingat?”

“Mereka adalah kaum pendusta dan pendurhaka, Tuhanku. Mereka adalah kaum yang ingkar, dan karena itu Tuhanku telah membinasakannya,” jawab salah satu malaikat.

“Kepada kaumnya Luth, Tuhanku telah mengirim wabah. Dan kepada kaumnya Nuh, Tuhanku telah mendatangkan bah. Dan mereka semua musnah,” sambung malaikat yang lain.

“Ya. Dan seperti kalian tahu, di satu belahan bumi, sekarang ini ada satu bangsa yang telah lebih bobrok dibanding kaumnya Luth dan Nuh itu. Dan ini adalah hukum-Ku: sudah saatnya bangsa itu dibinasakan agar tidak membawa kerusakan bagi kaum-kaum yang lain, bagi seluruh kehidupan di bumi.”

“Kaum siapakah, Tuhanku?”

“Kaum yang manakah, Tuhanku?”

“Bangsa yang tinggal di belahan bumi manakah, Tuhanku?”

Suasana kembali senyap beberapa saat. Para malaikat berdebar-debar menunggu jawaban.

“Kalian pura-pura tidak tahu. Sudah tentu mereka adalah bangsa yang mendiami daerah zamrud khatulistiwa itu.”

Hampir semua malaikat tercengang. “Bukankah itu bangsa Indonesia, Tuhanku?” beberapa malaikat menyahut hampir serentak.

“Memangnya ada apa dengan Indonesia, kok kalian terlihat kaget?”

“Bukankah bangsa Indonesia adalah bangsa yang taat beragama, Tuhanku,” tanya satu malaikat.

“Bukankah semua orang di sana adalah pemeluk agama yang Tuhanku ajarkan?” sambung yang lain.

“Betul, Tuhanku, kenapa mereka harus dibinasakan?”

“Ya, Aku mengerti perasaan kalian. Tapi coba sekarang kalian jawab dulu pertanyaan-Ku ini.”

“Kami, hamba-Mu, tak pernah tidak patuh, Tuhanku,” jawab para malaikat serentak.

“Coba jelaskan kepada-Ku, apa ada yang belum pernah Aku berikan kepada bangsa yang bernama Indonesia itu? Masih adakah sesuatu yang belum Aku berikan kepada bangsa Indonesia itu?”

Para malaikat hanya tertunduk diam. Membisu.

“Semua telah Aku berikan kepada bangsa Indonesia itu, agar mereka memiliki hidup yang lebih, agar mereka bisa memimpin bangsa-bangsa lain dalam membangun peradaban yang paripurna di atas muka bumi.”

“Kami adalah hamba-Mu, Tuhanku.”

“Adakah bangsa lain yang pernah Aku beri keindahan dan kekayaan alam seperti yang pernah Aku berikan kepada bangsa Indonesia?”

“Kami hamba-Mu, Tuhanku, telah bersaksi atas semuanya.”

“Ribuan pulau Aku hamparkan, yang di dalam perut buminya dikandung kekayaan yang melimpah-limpah. Laut yang luasnya tak terukur Aku bentangkan dari segala arah, yang di dalamnya juga terkandung kekayaan yang berlimpah ruah. Juga Aku tegakkan gunung gemunung berjejer-jejer berbarisan, dan segala sumber energi ada di dalamnya. Juga secara teratur Aku turunkan hujan— yang malah sering ditolak olah para pawang dungu itu— agar hutan-hutannya terus melebat. Di atas belahan buminya juga Aku buatkan garis edar matahari sehingga iklim dan cuacanya sempurna. Begitu indahnya, sehingga mereka menyebutnya zamrud khatulistiwa.”

“Kami hamba-Mu, Tuhanku, telah bersaksi atas semuanya.”

Tinggalkan Balasan