Mengenal Kiai Bergelar Pahlawan Nasional (1): KH Masjkur

298 kali dibaca

Nahdatul Ulama (NU), sebagai salah satu organisasi yang ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia (RI), dengan banyaknya tokoh yang andil di dalamnya, sudah barang pasti mendapatkan penghargaan dan penghormatan, termasuk penganugerahan gelar pahlawan nasional.

Masyhur di seluruh warga nahdiyin, banyak tokoh kiai NU yang mendapatkan penganugerahan gelar pahlawan nasional. Nama-nama tokoh kiai NU tersebut yang masyhur kita ketahui adalah: Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KHR As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Abdul Wahid Hasyim. Akan tetapi, nama-nama tokoh tersebut hanyalah sebagian dari kiai NU yang mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Advertisements

Nama-nama tokoh nahdliyin lainnya yang mendapatkan gelar pahlawan, barangkali sudah asing, atau bahkan terlupakan dalam benak kita. Oleh karenya, penulis menganggap tema ini penting dipublikasikan lagi, agar warga nahdliyin tetap mengingat perjuangan para tokoh-tokoh kiainya yang sampai mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Baca juga:   Meneladan Sikap Tawaduk Kiai Ihsan Jampes

Salah satu dari sekian nama tersebut adalah Kiai Masjkur, tokoh kiai NU asal Malang, Jawa Timur.

Biografi Kiai Masjkur

KH Masjkur lahir pada 30 Desember 1899 M di Singosari, Malang, Jawa Timur. Beliau lahir dalam keluarga yang taat beragama. Dari sisi nasab, KH Masjkur memang keturunan ulama yang zuhud, yakni Kiai Rohim, Singosari (dari jalur ibu). Pada usia 9 tahun, beliau bersama kedua orang tuanya berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji.

Baca juga:   KH Husein Muhammad (3): Pelopor Fikih Feminis

Setelah kembali dari tanah suci, KH Masjkur memulai menimba ilmu di pelbagai pondok pesantren. Mondoknya pun terbilang disiplin, dengan memulai dari belajar ilmu dasar hingga induk.

Mulanya, beliau mondok di Pondok Pesantren Bungkuk (Miftahul Huda), Singosari, di bawah asuhan Kiai Thahir. Selanjutnya, beliau mondok di Pondok Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo, mendalami ilmu alat (nahu dan saraf).

Selepas dari Pondok Pesantren Sono, beliau bergeser ke Panji, Sidoarjo, tepatnya mondok di Pondok Pesantren Siwalan, dengan fokus mendalami fikih. Dari Pondok Sono, KH Masjkur melanjutkan mondok ke Tebuireng, di bawah asuhan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, dengan fokus mendalami hadis dan tafsir.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan