duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Membaca Ulang Islamisasi Nusantara

Usaha lain dilakukan oknum a historis adalah meninjau kembali konsep Islam yang dipupuk auliya di Tanah Jawa. Islam sebagai pemersatu keberagaman suku, motivasi utama dan cita-cita luhur kemanusiaan, dianggap hal tidak penting untuk dipelajari generasi muslim. Mereka ini seperti Snouck Hurgronje dengan karya Verspreide Geschriften, R.A Kern dengan karya De Verbreiding van den islam, J.P Moquette dengan karya De Oudste Moehammedaansche Het Eerste Congress Voor De Taal-Land En Volkenkunde Van Java, dan orientalis Inggris, R.O Winstedt tak ketinggalan sumbangsihnya.

Mereka mencoba menyebarkan perangkap bahwa ulama Nusantara tidak layak dan tidak memenuhi kualifikasi untuk menyebarkan, mengembangkan, dan mewujudkan Islam sebagai agama rahmah lil alamin. Mereka menanyakan ulang peran Syaikh Nawawi al Bantani al Jawi, Syaikh Abdus Shomad al Falimbangiy, Syaikh Muhammad Irsyad al Banjari, Syaikh Khatib Sambas al Minangkabawi, Syaikh Mahfud al Tarmusi, Syaikh Kholil bin Abdul Latif al Bangkalniy, dan ulama lainnya.

Advertisements
Cak Tarno

Tak heran jika sebagian mereka ketakutan dengan spirit Islam yang dibangun oleh para ulama Jawa. Mereka takut dengan Islam sebagai motivator persatuan bangsa kita atau pun sebagai pemupuk ide nasionalisme ekonomi kita. Mereka dengan fasih memberikan analisa data dengan dibumbui informasi yang diklaim rasional, faktual, dan ilmiah dengan sandaran pada penalaran positivistik yang berlaku di Eropa (hlm 12).

Baca Juga:   Bila Pesantren Jadi Primadona di Negeri Orang

Misalnya, buku Ricklefs yang berjudul Polarising Javanese Society, menguraikan betapa saratnya kepentingan yang dibungkus di dalamnya. Di sana akan kita temukan analisis berbisa bak racun dibungkus klaim ilmiah tentang periode krusial keberislaman dan kenusantaraan kita, yaitu Islam yang dibawa para wali itu adalah bencana peradaban bagi orang Jawa.

Ditambah lagi dalam catatan berikutnya, bahwa kajian-kajian tentang kiprah para wali dan sejarah awal Islamisasi di Nusantara selama ini masih diliputi praduga-praduga yang tidak ilmiah. Wali Songo dianggap sebagai mitos dan penuh dengan legenda irasional. Karya-karya babad dan hikayat dianggap penuh khayalan bahkan karya tentang Wali Songo yang ditulis oleh orang Indonesia dianggap sebagai cerita yang tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari (hlm 14).

Baca Juga:   “Istanbul”, Kemurungan Kota Peninggalan Kekhalifahan Usmani

Halaman: First ← Previous 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan